Proses Berdirinya Ma'had Aly

Rabu, 6 November 2013 03:44 WIB
692x ditampilkan

Proses Berdirinya Ma'had Aly

Proses Berdirinya Ma'had Aly Latar Belakang Berdirinya Mahad Aly

Di sebut-sebut bahwa abad ke-20 merupakan era perkembangan sains dan teknologi. Orinetasi pengembangan pendidikan di dunia dipusatkan ke arah itu. Konsekuensi logis dari orientasi ini adalah kebijakan pemerintah Indonesia di bidang pendidikan pun beradaptasi dengan hal itu. Menyikapi hal itu, pesantren sebagai salah satu pusat pendidikan di tanah air juga mulai melakukan adaptasi. Awalnya, pesantren mulai mengadopsi kurikulum nasional ke dalam kurikulum madrasah yang dibinanya. Selanjutnya, pesantren juga membuka jenis pendidikan umum, di samping madrasah diniyah, dan sebagian pesantren hanya melaksanakan pendidikan umum, sedangkan materi kepesantrenan hanya disampaikan dalam bentuk pengajian. Di saat yang sama, minat santri mendalami warisan kitab-kitab turats kian melemah. Kenyataan itulah yang menggelisahkan para kiai dan tokoh pendidikan Islam di tanah air.

Bermula dari kerisauan itu, sejumlah kiai sowan kepada KHR. Asad Syamsul Arifin. Bak gayung bersambut, ternyata KHR. Asad merasakan hal yang sama. Akhirnya, beliau mengusulkan agar dicari kader-kader unggul dari masing-masing pesantren untuk digembleng dan di-training secara khusus dan di tempat khusus pula. Tujuannya, mencetak kader faqih zamanihi (ahli ilmu agama di zamannya), rasikh fi dinih (ulama yang mempunyai integritas keilmuan dan mampu menjawab persoalan-persoalan di sekitarnya), uswah li ummatih (menjadi teladan bagi umatnya). Dari sinilah kemudian ide pendirian sebuah institusi Pendidikan Tinggi Pascapesantren yang mereka sebut Mahad Aly digulirkan. Sebagai salah satu pengasuh pesantren, KHR. Asad bersedia menjadikan PP. Salafiyah-Syafiiyah Sukorejo sebagai pilot project.

Proses Berdirinya Mahad Aly Proses berdirinya Mahad Aly Situbondo ini melalui tiga tahap utama, yaitu:
  1. Tahap Lokal/Regional

Ide besar Al-Marhum KHR. Asad tentang pendirian Mahad Aly ini sempat mengendap beberapa saat (mungkin karena kesibukan para kiai). Baru muncul kembali, ketika dalam peringatan Haul Akbar KHR. Syamsul Arifin tahun 1989. Saat itu KH. Moh. Hasan Basri, Lc, salah seorang pengurus teras Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah membacakan wasiat KH. Hasyim Asyari kepada KHR. Asad, yang berbunyi : Kamu Asad supaya banyak mencetak kader-kader Fuqaha di akhir zaman. Usai acara haul, KHR. Asad mengumpulkan para kiai yang diundang pada acara itu di kediamannya. Dari pertemuan ini dibentuk tim kecil untuk membahas langkah-langkah teknis pendirian Mahad Aly. Tim ini diketuai oleh KH. Moh. Hasan Bashri, Lc (Situbondo) yang beranggotakan; (alm) KH. Abd. Wahid Zaini, SH. (Probolinggo), (alm) KH. Yusuf Muhammad, LL.M (Jember) KH. Nadhir Muhmmad (Jember), KH. Khatib Habibullah (Banyuwangi), dan KH. Afifuddim Muhajir (Situbondo).

Setelah pembicaraan di kediaman KHR. Asad, pembicaraan mengenai langkah awal yang harus diambil dilaksanakan di kediaman KH. Khatib Habibullah Banyuwangi yang secara intensif membahas silabus, tenaga edukatif, dan sebagainya. Dalam rentang waktu kurang lebih tujuh bulan, dari berbagai kajian intensif, terangkum beberapa konsep yang cukup matang tentang pendirian Mahad Aly.

  1. Tahap Nasional

Konsep lokal yang telah dihasilkan tim kecil tentang proses pendirian Mahad Aly belum dirasa cukup bagi KHR. Asad. Untuk mematangkan konsep tersebut, KHR. Asad meminta salah seorang tim untuk mempresentasikannya dalam sebuah seminar nasional yang dihadiri oleh beberapa tokoh, diantaranya KH. Moh. Tholchah Hasan, KH. Ali Yafi, KH. Sahal Mahfudz, Prof. KH. Ali Hasan Ad-Dariy An-Nahdi, dan KH. Masdar Farid Masudi. Karena kelangkaan ulama merupakan isu nasional pada waktu itu, maka seminar menerima ide tentang Mahad Aly.

Respon positif dari formu senimar tampaknya belum meyakinkan KHR. Asad untuk segera membukan Mahad Aly. Sebagai akhir dari tahap nasional ini, beliau meminta agar rancangan pendirian Mahad Aly yang telah cukup matang dibawa dan dimintakan restu pada salah seorang masayikh Indonesia, yaitu KH. Ali Masum Krapyak Yogyakarta. Tokoh ini pun merestuinya.

  1. Tahap Internasional

Setelah proses dalam negeri dirasa cukup, KHR. Asad meminta tim kecil pendiri Mahad Aly untuk membawa konsep tersebut ke para masayikh Makkah al-Mukarramah, yaitu Syekh Yasin bin Isa Al-Fadany, Dr. Sayyid Muhammad bin Alawiy al-Malikiy, Syekh Ismail bin Utsman al-Yamaniy. Ketiga tokoh sunni ini pun memberikan sambutan hangat atas ide lahirnya Mahad Aly. Setelah mendapat restu dari para tokoh dan masyayikh regional, nasional, dan internasional, barulah secara resmi KHR. Asad mendirikan sebuah Lembaga Pascapesantren pertama di Indonesia pada tanggal 21 Pebruari 1990, yang kemudian dikenal dengan Al-Mahad Al-Aly Lil Ulum al-Islamiyah Qism al-Fiqh, dan saat ini bernama Al-Mahad Al-Aly li Ilmay al-Fiqh wa Uhsulih, sebuah lembaga pendidikan Islam yang menitikberatkan pada kajian persoalan-persoalan hukum formal syariah, baik melalui pendekatan qauli (fiqh) atau pun pendekatan manhaji (ushul fiqh).

Kenapa mesti fiqh? Karena disamping berdasarkan wasiat KH. Hasyim Asyari, Beliau mulai merasakan gejala adanya kelangkaan ulama yang menguasai fiqh secara utuh dan mampu mengaplikasikannya dalam memecahkan persoalan kontemporer secara komprehenship dan bertanggungjawab.

Di sisi lain, fiqh sering dipahami hanya sebatas standarisasi halal-haram semata yang harus diterima apa adanya dan tak boleh diotak-atik, ketimbang sebagai referensi perilaku umat manusia dalam mengantarkan mereka kepada suatu kehidupan beragama dan bermasyarakat secara baik dan berkualitas. Eksesnya, fiqh menjelma menjadi perangkat undang-undang formal yang rigid, tidak rasional dan tak mampu beradaptasi dengan dinamika masyarakat. Ujung-ujungnya umat semakin menjauhkan diri dari nilai-nilai fiqh. Salah satu buktinya, animo masyarakat untuk menguasai fiqh secara khusus, dan ilmu-ilmu agama secara umum dalam skala luas semakin menurun. Untuk mendekatkan kembali antara umat dengan fiqh, maka fiqh yang ada harus dipelajari melalui pendekatan ushul fiqhnya.