Mengenal Lebih Jauh Makna Tawadhu

Selasa, 19 November 2013 14:39 WIB
686x ditampilkan Mahasantri Tasawuf Akhlak

Mengenal lebih jauh makna tawadhuMengenal Lebih Jauh Makna Tawadhu

Mungkin sebagian besar dari kita sudah cukup sering mendengar tentang istilah tawadhu. Terlebih lagi dalam lingkungan yang kental dengan unsur religius, semisal lingkungan pesantren, istilah-istilah semacam ini tentu sudah cukup populer di kalangan mereka. Namun sepertinya masih banyak yang belum paham betul tentang konsep tawadhu secara utuh, juga urgensi dan keutamaan sifat tawadhu dalam kehidupan sehari-hari. Maka kajian mengenai tawadhu sebagai salah satu bentuk akhlak al-mahmudah (akhlak terpuji) ini memang cukup menarik untuk dibahas lebih jauh, membahas seputar seluk beluk macam akhlak yang satu ini.

Apa itu tawadhu? Secara kebahasaan, kata Tawadhu (??????? ) berasal dari akar kata al-dhaah (????? ) yang berarti rendah atau hina. [Mirqat al-Mafatih: 14/175, Dalil al-Falihin: 5/48] Berkaitan dengan ini, Dr. Amar Khaled, salah seorang motivator muslim terkemuka asal Mesir, pernah mengkajinya dalam sebuah buku tentang akhlak-akhlak seorang muslim. Di sana disebutkan bahwa istilah tawadhu memiliki dua makna. yang pertama, tawadhu bermakna tunduk dan mau menerima kebenaran dari siapapun. Artinya bahwa seseorang dikatakan tawadhu jika ia mau mengesampingkan sikap egoisnya. Ia mau mendengar dan menerima sebuah kebenaran, dari manapun asalnya. Apakah itu berasal dari orang yang lebih muda, ataupun dari orang yang lebih rendah status sosialnya, selama itu berupa kebenaran, ia tentu mau menerimanya dengan sepenuh hati. Kedua, tawadhu juga dapat bermakna merendahkan sayap kepada manusia. Makna kedua ini mengandung pemahaman bahwa seorang yang memiliki sifat tawadhu akan selalu ramah dan lembut saat bergaul dengan siapapun. dalam berinteraksi dengan orang lain, ia selalu berada dalam posisi yang sejajar dengan mereka, siapapun orangnya. Baginya tak ada bedanya antara bergaul dengan orang biasa, orang terhormat, atau bahkan orang rendahan sekalipun. Lalu apa pentingnya sikap tawadhu? Disadari atau tidak, sikap merendah atau tawadhu ternyata justru akan membuat kita disukai banyak orang (meskipun hal itu bukan menjadi sebuah tujuan) dan sebaliknya, orang yang selalu merasa tinggi atau bersikap sombong akan semakin dijauhi dan dibenci orang lain. Orang lain justru akan menganggap rendah sikap-sikap yang demikian itu. Hal ini sangat sesuai dengan apa yang telah disabdakan Nabi kita :

"???? ????????? ??????? ???????? ?????????? ???????? ?????? ?????????? ??? ??????? ????????????? ? ?????? ????????? ????? ????? ???????? ???????? ????? ???????? ?????? ?????????? ??? ???????? ??????????????"

Siapa yang tawadhu satu derajat kepada Allah, Allah angkat satu derajat hingga mencapai surga tertinggi. Sebaliknya, siapa yang sombong satu derajat kepada Allah, Allah rendahkan ia satu derajat hingga mencapai neraka terbawah. Dalam hadist yang lain, Nabi Muhammad Saw. Bersabda, Orang yang tawadhu pasti dimuliakan oleh Allah[1] Hadits-hadits di atas cukup untuk menggambarkan betapa tingginya kedudukan orang mukmin yang tawadhu di sisi Allah. Dan juga sebaliknya, betapa rendah kedudukan orang yang sombong. Maka kita hanya tinggal memilih, ingin berada di golongan yang mana posisi kita di sisi Allah? Mari kita renungkan. Selain dalam Hadis, Ibnu Athaillah juga sempat menyinggung perihal kerendahan hati, dalam karya emasnya al-Hikam dengan menggunakan ungkapan nan indah penuh makna :

"???????? ?????????? ??? ?????? ??????????? ????? ?????? ?????? ??? ????????? ??? ??????? ?????????"

Tanamlah wujudmu di tanah kerendahan. Sesuatu yang tumbuh dengan tanpa ditanam maka hasilnya tidak akan sempurna[2] Sungguh rasionalisasi yang cukup jeli dari seorang ibnu Ataillah tentang sikap tawadhu dan rendah hati ini. Orang-orang yang diangkat derajatnya oleh Allah bukanlah orang yang merasa tinggi dan punya kedudukan tertentu, melainkan orang yang justru menyadari akan kerendahan dan ketidakberdayaannya di hadapan Allah Swt. Dan satu hal lagi yang tak kalah penting untuk kita renungkan, bahwa sejatinya kita sebagai seorang hamba sama sekali tak pantas untuk tidak tawdhu dan justru berbangga diri, merasa lebih tinggi di antara makhluk Allah yang lain. Sekali lagi itu tidak pantas. Allah Swt. Berfirman dalam sebuah hadits qudsi, Kesombongan adalah pakaian-Ku dan kemuliaan adalah jubah-Ku. Siapa yang mau menyaingi-Ku dalam keduanya, pasti Aku siksa.[3] Apa yang akan terjadi bila seorang pembantu sudah berani memakai pakaian yang dikenakan majikannya? Dan kira-kira, apa yang akan dilakukan sang manjikan jika ia mengetahui kelakuan pembantu yang demikian itu? Lalu jika demikian, masihkah kita berani berbangga diri, sementara itu merupakan pakaian Allah Swt, pencipta seluruh alam, penguasa seluruh makhluk? Tentu kita telah bisa merenungkan jawaban-jawaban dari setiap pertanyaan di atas. Maka sudah seharusnya kita mulai belajar untuk bersikap tawadhu kepada Allah. Janganlah kita menyaingi kesombongan-Nya. Bukankah kita semua takut akan murka Allah? Keteladanan sikap tawadhu dari Nabi Muhammad Saw. Lalu dari mana kita dapat mengetahui contoh-contoh sikap yang mencerminkan sifat tawadhu? tentu saja kita bisa banyak belajar tentang sifat tawadhu dari Nabi kita. Rasulullah Saw. telah banyak mengajarkan sikap-sikap yang demikian itu. Para sahabat bercerita bahwa Rasul Saw. Kala bersalaman tidak melepaskan tangannya hingga orang yang disalami itu yang melepasnya. Beliau selalu menghadap dengan seluruh tubuhnya. Beliau tidak memalingkan wajah darimu, sampai engkau sendiri yang memalingkan wajah. Beliau selalu duduk di tempat duduk terakhir yang tersisa. Beliau juga senantiasa riang ceria. Engkau tidak akan menemuinya kecuali dalam kondisi tersenyum. Pernah suatu ketika seseorang mendatangi Rasulullah dengan tubuh gemetar (ia mengira sedang bertemu dengan salah seorang raja). Melihat hal itu, Rasul Saw. berkata Biasa-biasa saja. aku bukan raja. Aku hanyalah anak dari wanita yang makan daging kering di kota Makkah.[4] Pernahkah seseorang datang menemui kita dalam kondisi takut lalu kita katakan pada orang itu, Aku anak seorang petani biasa. Maka ini sudah cukup sebagai perbandingan bagaimana sikap tawadhu Nabi kita. Mari kita renungkan bersama. Contoh praktek tawadhu dalam kehidupan nyata a. Tawadhu dalam berpakaian Suatu ketika seseorang mendatangi Nabi Saw., Ya Rasulullah, aku senang memakai pakaian yang bagus dan sandal yang bagus. Apakah ini termasuk sombong? Beliau menjawab, Tidak. Allah maha indah. Dia senang pada keindahan.[5] Dari hadits di atas kita dapat memahami bahwa yang dimaksud dengan tawadhu dalam berpakaian bukan berarti memakai pakaian yang jelek, lusuh, dan sebagainya, sehingga memberikan kesan bahwa orang yang taat beragama ternyata tidak memiliki cita rasa dalam berpakaian, pakaian mereka tidak bagus. Tidak demikian pengertiannya. Namun yang harus dihindari adalah rasa bangga dan sombong terhadap pakaian bagus yang sedang dipakai. Dalam rangka tawadhu, kita juga bisa memilih pakaian yang sederhana, biasa, dan tidak mahal namun tetap bagus, meskipun sebenarnya kita mampu untuk membeli pakaian yang lebih mewah dari itu. b. Tawadhu kepada pembantu Rasulullah Saw. Bersabda, Jika pembantu kalian membawakan makanan kepada kalian, dudukkan ia bersama kalian. Jika tidak, berikan padanya satu atau dua suap, satu atau dua kali makan.[6] Hal ini menunjukkan bahwa sudah sepatutnya kita memberikan hak-hak yang sama pada pembantu kita. Jangan sampai terlupa bahwa mereka juga manusia sama seperti kita. Maka perlakukanlah mereka dalam posisi yang lebih sejajar. Masih banyak lagi sebenarnya contoh-contoh sikap tawadhu lain dalam kehidupan sehari-hari. Tawadhu merupakan salah satu bagian dari sekian banyak macam-macam akhlak yang terpuji (akhlak al-Mahmudah) lainnya. Demikianlah seharusnya kita bersikap, dengan kesadaran penuh sebagai seorang hamba yang tak berdaya di hadapan Sang Pencipta. Semoga kita semua diberi kemampuan untuk belajar menjadi insan yang senantiasa menghiasi kehidupannya dengan akhlak yang terpuji ini. Amin.

[Ali Fatoni]


 
[1] HR. Muslim (Hadis no. 6535), al-Tirmidzi (hadis no. 2029), imam Ahmad (hadis 2/386).
[2] D.A. Pakih Sati, Lc. Syarah Al Hikam. (Jogjakarta: DIVA press) hal. 41.
[3] HR Imam Ahmad (hadis 2/414).
[4] HR. Ibnu Majah (Hadis no. 3312) al-Hakim (Hadis 2/466).
[5] HR. Muslim (Hadis no. 261), al-Tirmidzi (Hadis no. 1999).
[6] HR. Ahmad (Hadis 1/446).