Pembagian Nasakh Mansukh

Sabtu, 17 Mei 2014 12:47 WIB
9305x ditampilkan Artikel Pembagian Nasakh Mansukh

Pembagian Nasakh Mansukh Secara global jenis-jenis Nasakh itu dibagi empat yaitu :

a) Nasakh al-Qur`an dengan al-Qur`an.

Jenis Nasakh ini, telah disepakati oleh seluruh orang yang yang menyetujui Nasakh mengenai kebolehan terjadinya Nasakh. Kebolehan disini semata karena ayat-ayat dalam al-Qur`an itu harus diketahui dan diamalkan. Contohnya ayat 12 surat al-Mujadalah yang di-nasakh dengan ayat 13 al-Mujadalah, sebagaimana yang telah dijelaskan diatas.

b) Nasakh al-Qur`an dengan al-Sunnah.

Al-Qatthan mengkategorikan jenis Nasakh yang kedua ini menjadi dua bagian yaitu :

1) Nasakh al-Qur`an dengan Hadits Ahad

Dalam hal ini, jumhur berpendapat bahwa tidak boleh me-nasakh al-Qur`an dengan Hadits Ahad, karena al-Qur`an adalah Mutawatir datangnya (tawatur al-wurud), sehingga memberi faedah secara yakin. Sementara Hadits Ahad hanya memberi faedah secara dzanny (dugaan) saja. Karena itu tidak boleh menghapus hukum yang "meyakinkan" dengan dalil yang "dugaan" saja.[1]

Al-Syaukany mengomentari hal ini bahwa sebenarnya ikhtilaf ulama mengenai boleh tidaknya menasakh al-Qur`an dengan Sunah Ahad itu terjadi dalam hal kebolehan secara "aqli" atau secara "riil". Menurut beliau, mayoritas ulama sebagaimana dihikayahkan oleh Salim al-Razi, penganut al-Asy`ariyah serta golongan Mu`tazilah bahwa secara akal tidak mustahil me-nasakh al-Qur`an dengan Hadits Ahad. Kalau secara "riil" bahwa me-nasakh al-Qur`an dengan Hadits Ahad tidak akan terjadi.[2]

2) Nasakh al-Qur`an dengan Hadits Mutawatir

Jumhur ulama berpendapat bahwa me-nasakh al-Qur`an dengan Hadits Mutawatir itu diperbolehkan, sebab kedua-duanya sama-sama wahyu Allah swt. Hal ini sesuai dengan ayat al-Qur`an surat al-Najm ayat 3-4 yaitu :

????? ??????? ???? ???????? . ???? ???? ???? ?????? ??????

"dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya [3]. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan(kepadanya) [4]".[3]

Imam Syafi`i ,[4] ahli Dhahir berpendapat lain bahwa tidak boleh me-nasakh al-Qur`an dengan Sunah, sekalipun Sunah Mutawatir. Mereka berargumen dengan teks yang sama sebagaimana ulama yang menyetujuinya. Dalil mereka antara lain surat al-Nahl 44 dan surat al-Baqarah 206

Labih lanjut, dalil-dalil yang dikemukakan para penolak Nasakh dengan Sunah ini, oleh al-Zarqany dibantah dan diberi tanggapan balik terhadap dalil-dalil mereka dengan alasan-alasan yang cukup logis dan realistis.[5]

c) Nasakh al-Sunnah dengan al-Qur`an

Nasakh ini adalah menghapuskan hukum yang ditetapkan berdasarkan sunah dengan hukum yang didasarkan dengan al-Qur`an. Nasakh jenis ini diperbolehkan oleh jumhur ulama. Contoh seperti berpuasa wajib pada hari `Asyura yang didasarkan atas Hadits:

????? ????? ??? ???? :???? ?? ?????? (??? ????? ???????) ????? ?? ???? ???? ???????? ????? ???? ???? ?.?. ??? ???? ????? ?? ???????.

Dari `Aisyah r.a. beliau berkata : "adalah termasuk (ayat al-Qur`an) yang diturunkan (yaitu ayat yang menerangkan) sepuluh kali susuan yang diketahui itu menjadikan mahram (haram dikawin), maka lalu di-nasakh dengan lima kali susuan yang nyata. Maka menjelang wafat Rasulullah SAW, ayat-ayat itu masih dibaca"[6]

Semula berpuasa pada hari `Asyura itu wajib, tetapi setelah turun ayat yang mewajibkan puasa pada bulan Ramadhan maka berpuasa hari Asyura tidak wajib lagi, sehingga ada orang yang berpuasa ada juga yang tidak. Ayat tersebut adalah : surat al-Baqarah 185.

?????? ????????? ???????? ??????? ????? ?????????? ????? ?????????? ???????????? ????? ???????? ?????????????? ????? ?????? ??????? ????????? ???????????? ????? ????? ???????? ???? ????? ?????? ????????? ????? ???????? ?????? ??????? ?????? ?????? ????????? ????? ??????? ?????? ????????? ??????????????? ?????????? ???????????????? ?????? ????? ??? ????????? ????????????? ???????????

"(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir (dinegeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak dari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengangungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur ".[7]

d) Nasakh al-Sunnah dengan Sunnah

Jenis Nasakh ini ada 4 kemungkinan yaitu:

1) Nasakh Sunah Mutawatirah dengan Sunah Mutawatirah

2) Nasakh Sunah Ahadiyah dengan Sunah Ahadiyah

3) Nasakh Sunah Ahadiyah dengan Sunah Mutawatirah

4) Nasakh Sunah Mutawatirah dengan Sunah Ahadiyah

Menurut Jumhur Ulama nomor 1-3 itu diperbolehkan adanya Nasakh. Tapi nomor 4 ulama masih ikhtilaf. Dalam hal ini jumhur ulama tidak memperbolehkan[8]

  1. 2. Adapun macam-macam Nasakh yang terjadi dalam al-Qur`an itu ada tiga macam:
    1. a. Me-nasakh bacaan teks dan hukumnya sekaligus.

Artinya menghapuskan bacaan ayat dan hukumnya sekaligus sehingga bacaan ayatnya sudah tidak ada lagi dan hukum ayat pun telah dihapus dan diganti dengan ketentuan lain. Contohnya penghapusan ayat yang mengharamkan kawin dengan saudara sepersusuan karena bersama-sama menetek kepada seorang ibu dengan sepuluh kali susuan yang di-nasakh dan diganti dengan lima kali susuan.

Dalil yang menunjukkan terjadinya Nasakh macam yang pertama ini yaitu Hadist Riwayat Muslim dari `Aisyah r.a.

?? ????? ??? ???? ???? ?? ?????? ???? ???? ??? ??????? ?? ???????? ?? ??? ???? ???? ?.?.?????? ??? ??? ????? ???? ???? ???? ?.?. ?? ??? ?????? ??? ??? ????.

Dari `Aisyah r.a. bahwasanya kaum Quraisy berpuasa di hari `Asyura pada zaman jahiliyah. Kemudian Rasulullah saw. memerintahkan untuk berpuasa pada hari `Asyura sampai diwajibkannya puasa Ramdhan. Lalu beliau bersabda: Barang siapa yang ingin (berpuasa) maka hendaklah berpuasa, dan barang siapa yang ingin (tidak berpuasa), maka berbuka"[9]

Al-Qadhi Abu Bakar dalam kitabnya al-Intishar menceritakan bahwa orang-orang yang mengingkari Nasakh tidak membenarkan Nasakh ini dengan alasan karena ditetapkan dengan Hadist Ahad yang dzanny. Hal tersebut oleh Prof. Mannaul Qatthan dibantah dengan alasan disini cukup dengan dalil-dalil Dzanny dari Hadits Ahad itu saja. Sebab disini hanya untuk menetapkan adanya adanya Nasakh. Kalau untuk menetapkan turunnya al-Qur`an memang harus dengan dalil yang Qath`i, yaitu dengan al-Qur`an sendiri atau Hadist Mutawatir.

  1. b. Me-nasakh hukumnya tapi tidak bunyi teksnya.

Yakni tulisan dan bacaan ayatnya masih tetap, sementara isi hukum ajarannya telah di-nasakh dan diganti dengan hukum yang lain. Nasakh macam yang kedua ini banyak terdapat dalam al-Qur`an. [10]Contoh ayat yang hukumnya di-nasakh, tetapi tidak bacaan teksnya. Sebagaimana dalam surat al-Baqarah 240 di-nasakh oleh : al-Baqarah 234 yaitu :

??????????? ????????????? ??????? ??????????? ?????????? ????????????? ?????????????? ?????????? ???????? ????????? ??????? ???????? ??????????? ????? ??????? ?????????? ?????? ???????? ??? ???????????? ?????????????? ???????? ????? ??????????? ???????

Ayat tersebut di-nasakh oleh ayat berikut ini :

??????????? ????????????? ??????? ??????????? ?????????? ????????? ??????????????? ????????? ????? ????????? ?????? ????????? ?????? ???????? ????? ??????? ?????????? ??? ??? ???????? ???? ???????????? ??? ?????????? ???????? ??????? ???????

Dengan turunnya ayat 234 surat al-Baqarah ini, maka ayat 240 surat al-Baqarah yang bacaannya masih tetap ada. Isi hukumnya yaitu iddah satu tahun bagi wanita yang cerai mati itu sudah tidak berlaku lagi, sudah di-nasakh dan diganti dengan iddah empat bulan sepuluh hari.

DR. Subhi Shalih dalam kitabnya Mabahis fi Ulum al-Qur`an menganggap aneh ada Nasakh macam kedua ini. Beliau mempertanyakan apa hikmahnya menghapus hukum sedang bacaannya tidak? Lalu Prof. Mannaul Qatthan menjawab:

1) al-Qur`an itu dibaca untuk diketahui isi hukumnya dan diamalkan, juga dibaca karena al-Qur`an itu firman Allah swt, sehingga siapa saja yang membacanya akan mendapat pahala.

2) Nasakh itu pada umumnya memberi keringanan. Karena itu tidak di-nasakh-nya bacaan ayat itu untuk mengingatkan nikmat Allah yang memperingan hukum tersebut.

c. Nasakh bacaan tidak hukumnya.

Yakni bacaan ayat-ayatnya sudah dihapus, sehingga sudah tidak bisa dibaca lagi tetapi hukumnya masih tetap berlaku dan diamalkan. Dalil-dalil yang menjelaskan adanya Nasakh macam ini ialah Hadits dari Umar bin Khatthab dan Ubay bin Ka`ab.

???? ???: ???? ???? ???? ?.?. ???? " ????? ??????? ??? ???? ????????? ?????"

"Zaid berkata : "saya mendengar bahwa Rasulullah saw bersabda "orang tua laki-laki dan orang tua perempuan itu kalau keduanya berzina, maka rajamlah (dihukum lempar batu sampai mati) sekaligus"[11]

Kalau dicari di seluruh al-Qur`an, ketentuan tersbut sudah tidak akan diketemukan lagi, karena memang sudah di-nasakh. Tetapi hukum rajam bagi orang tua yang berzina, isi dari ayat tadi itu masih tetap berlaku, meski ayatnya sudah tidak ada lagi dari bacaannya. Karena itu, Umar bin Khattab sampai berkata : "kalau sekiranya tidak karena orang akan menyatakan bahwa Umar menambah dalam kitab Allah, tentu akan saya tulis ayat itu dengan tangan saya sendiri".[12]

Orang tidak suka nasakh menanyakan, apa gunanya me-nasakh bacan ayat sedang hukumnya masih ada? Mengapa bacaaanya tetap dibiarkan, agar tetap bisa dibaca orang yang akan mengamalkan isi hukumnya. .

Imam Ibnu Jauzi dalam kitab Fununul Afnan Fi `Ajaibi Ulum al-Qur`an menjawab, bahwa yang demikian itu untuk mengecek sampai dimana kekuatan umat islam ini dalam berupaya dan berusaha mengamalkan hukum ajaran Tuhan, meski hanya berdasarkan dugaan, tanpa menunggu dalil yang Qath`i. Orang yang imannya tebal, seperti Nabi Ibrahim akan bersegera mengamalkan perintah Allah swt walaupun menyembelih anak kesayangannya, hanya berdasarkan impian. Padahal impian itu merupakan dasar yang paling lemah.[13]



[1] Mannaul Qatthan, Op.Cit, h: 236-237

[2] Al-Syaukany, Op.Cit, h : 190

[3] Departemen Agama RI, al-Qur'an dan Terjemahannya, al-Syifa, Semarang, 2002, h: 871.

[4] Menurut al-Zarqany bahwa apa yang dikatakan imam Syafi`I mengenai penolakannya terhadap bolehnya al-Qur`an di-nasah al-Sunah itu harus dipahami secara benar. Maksud Syafi`i adalah antara al-Qur`an dan al-Sunah tidak akan ditemukan pertentangan. Perkataan beliau ini demi untuk mengagungkan kedua al-kitab tersebut. ( Lihat; Manahil al-Irfan, al-Zarqany, h: 255).

[5] Dalil yang digunakan oleh para penolak nasakh antara lain ; bahwa tugas Rasul itu hanya sebagai penjelas al-Qur`an. Jadi, kalau al-Sunah itu me-nasakh al-Qur`an, maka ia tidak lagi sebagai penjelas, melainkan menghilangkannya, contoh {QS. Al-Nahl : 44}. Pendapat ini dibantah oleh al-Zarqany, ia menjawab; bahwa ayat tersebut secara tekstual tidaklah menunjukkan akan adanya hashar. Dan fungsionalitas al-Sunah sebagai penjelas al-Qur`an tidaklah menegasikan adanya nasakh. Hal ini sama dengan bunyi al-Qur`an {QS. Al-Furqan : 1}, bahwa eksistensi Nabi Muhammad sebagai penerang alam semesta tidak menafikan beliau sebagai manusia biasa ( Manahil Irfan, h : 255-207).

[6] Imam Muslim, Shahih Muslim, Darul Fikr, Bairut, Libanon, Jild I, t.th. h: 616

[7] Departemen Agama RI, al-Qur'an dan Terjemahannya, al-Syifa, Semarang, 2002, h: 45.

[8] Mannaul Qatthan, Op.Cit, h: 237

[9] Abi abdillah, Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Matn al-Bukhari, Taha Putra, Semarang, juz I, t.th, h : 324.

[10] Al-Zarkasi menyebutkan bahwa ayat yang hukumnya dinasakh, tetapi bunyi teksnya tetap ada itu sekitar ada 63 surat dalam al-Qur`an. (Lihat al-Burhan h: 45).

[11] Abi Abdillah al-Syaibany, Musnad Ahmad bin Hambal, Darul Ihya wa al-Turast al-`Araby, Bairut, Libanon, Jild VI, t.th, h: 234.

[12] Yahya bin Yahya bin Kasyir al-Laisti, al-Muwattha`, Darul Hikr, Bairut, Libanon, Jild I, t.th, h: 148.

[13] Prof. Dr. H. Abdul Djalal. H.A. Loc.Cit., h: 147.