ISTRI MENCERAI SUAMI, MENGAPA TIDAK?

Selasa, 3 Februari 2015 01:43 WIB
834x ditampilkan Mahad Aly Hukum Talak Istri Boleh Mentalak Suami Pembagian Talak Istri Minta Cerai Istri Mencerai Suami Hukum Cerai Fikih Menjawab Buletin Tanwirul Afkar

ISTRI MENCERAI SUAMI, MENGAPA TIDAK?

Edisi 28/ 27 Maret 1998

Suami mencerai istri, Biasa?! Yang tidak biasa istri bisa melepas ikatan pernikahan secara mandiri. Tapi bagaimana lagi, kalau tuntutan keadaan menghendaki demikian. Untuk lebih jelasnya, baca tuntas TA edisi ini.

Dunia rumah tangga memang penuh dengan cerita. Suka duka datang silih berganti. Ketika masa-masa bulan madu, dunia seperti milik berdua, yang lain cuma nyewa. Banyak pasangan yang nekat menikah karena sudah kadung cinta berat, tak peduli kanan kiri tidak setuju. Yang penting happy. Yang terbayang hanya yang indah-indah. Namun, manakala masa-masa madu itu terlewati, kenyataan-kenyataan yang tidak seluruhnya indah, mulai terhampar. Suami sudah mulai melihat kekurangan-kekurangan istri, begitu pula sebaliknya. Suami harus mengemban tanggung jawab; memberikan nafkah zahir batin bagi istri, mempergauli istri dengan baik dan seterusnya. Istri terikat untuk taat, menjaga kehormatan diri dan suaminya, menjadi ibu rumah tangga yang baik, mendidik anak-anak dan seterusnya.

Ketika kedua belah pihak konsisten dengan hak dan kewajibannya masing-masing, no problem. Karena memang, laki-laki dan perempuan diciptakan untuk berpasangan dan saling melengkapi. Secara metaforis, Al-Quran menggambarkan mereka (istri-istri) adalah pakaian bagimu dan kalian adalah pakaian bagi mereka [al-Baqarah, 187]. Namun secara naluriah, manusia memang cenderung untuk lebih pandai menuntut haknya ketimbang melaksanakan kewajibannya. Maka, tatkala suami istri mau enaknya sendiri dan masing-masing bertahan dengan sikapnya, bisa dipastikan rumah tangga berada di ambang kehancuran.

Ketika sebuah perkawinan tidak mungkin lagi diselamatkan, apa yang harus dilakukan? Kalau yang menjawabnya adalah undang-undang perkawinan, maka suami atau istri bisa mengajukan gugatan pemutusan hubungan perkawinan ke pengadilan. Kalau gugatannya dari istri, disebut cerai gugat. Jika dari suami, disebut cerai talak. Perceraian menurut undang-undang ini dimungkinkan dengan alasan karena salah satu pihak melakukan penganiayaan, suami istri terus menerus cekcok, ditinggal selama dua tahun tanpa alasan, ada cacat yang tidak memungkinkan suami atau istri melakukan keajibannya, salah satu pihak dihukum 5 tahun penjara dan salah satu pihak mejadi pezina, pemadat atau penjudi. [Lihat: pasal 19 PP No. 9, Th. 1975].

Di dalam fiqh, secara sepintas aturan pemutusan perkawinan tampak lebih memihak kepada suami. Suami bisa melakukan talak kapan saja dengan alasan apa saja dan itu sah. Jika istri yang minta cerai, ia harus membayar sejumlah harta yang diinginkan suami, atau jalur yang ditempuhnya adalah khulu. Jika yang diambilnya adalah jalur fasakh, ia harus menemukan alasan yang sangat kuat dan fasakh baru dianggap valid setelah diputuskan hakim. Jadi susah betul jadi istri, kalau mau cerai? Tapi apa betul begitu?

perceraian-ilustrasi-_130130123224-871Baiklah kita mulai dari pertanyaan, mengapa hak talak ada di tangan suami? Apa yang melatarbelakangi bangunan hukum ini? Sesungguhnya talak terutama bukan dimaksudkan untuk menjadi sarana kesewenang-wenangan suami. Talak adalah alternative terkhir bagi suami, ketika pernikahan sudah tidak mungkin lagi dipertahankan. Maka tidak heran bahwa meskipun talak suami halal dan sah, ia menjadi sesuatu yang sangat dibenci Allah. Sabda Rasul:

???????? ????????? ??? ????? ???????

Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah Talak.

Sehingga sungguh berat beban suami ketika ia harus memilih keputusan talak, ia harus berhadapan dengan dibenci Allah. Tambahan lagi, dalam fiqh, suami wajib memberi mahar, member nafkah (makanan, pakaian, tempat tinggal), muasyarah bil maruf terhadap istri. Pertimbangan lain yang mendasari hak talak diberikan kepada suami, umunya laki-laki lebih tegar, penuh pertimbangan dan tidak mudah terbawa arus perasaan ketimbang perempuan. Maka menjadi logis kalau talak diberikan kepada suami. Sehingga talak tidak dengan mudah dijatuhkan. [Hikmah at-Tasyri, 35:II].

Namun, jika sejak awal, calon pasangan suami istri sudah merasa sama-sama matang dan masing-masing _las berinisiatif untuk melakukan talak, fiqh ternyata tidak menutup jalan. Masih terbuka kesempatan bagi istri untuk juga memiliki hak talak, dengan cara: sejak sebelum akad nikah, calon suami istri sepakat bahwa jika ada hal-hal yang mendesak, istri _las memutus hubungan pernikahan dengan cara mentalak dirinya sendiri. [Tanwir al-Haw?lik, 81:II, Yas`al?naka Fi ad-d?n wal Hay?t, 234:III].

Pemutusan hubungan dengan cara ini, mungkin terjadi kalau sejak sebelum akad nikah, suami istri sudah merancangnya. Tapi kalu sudah kadung pernikahan terjadi dengan tanpa kesepakatan apa-apa, istri tinggal memilih jalur khulu atau fasakh untuk melakukan pemutusan pernikahan atas inisiatifnya. Namun, khulu tidak _las dilakukan tanpa _las an. Bahkan jika suami baik-baik saja, tidak nyeleweng, istri tidak diperkenankan mengajukan khulu. Sabda Rasul:

???????? ????????? ???? ????? ?????? ?? ???? ?? ??? ???? ??????????? ????????

Perempuan yang meminta talak suaminya tanpa alasan, maka haram baginya (menghirup) bau surga.

Walaupun ada penjelasan yang membenarkan, misalnya karena suaminya sangat-sangat jelek, istri harus memberikan harta yang dikehendaki suami. Ini diceritakan bahwa suatu ketika istri Tsabit bin Qais menjelaskan kepada Rasul, meminta agar Tsabit mau mencerainya. Perempuan itu beralasan bahwa ia tidak bisa hidup serumah dengan suaminya, karena suaminya sangat hitam, pendek dan jelek wajahnya. Tetapi kemudian, Tsabit bilang: Aku berikan ia sepetak kebun. Jika ia mau mengembalikan kebun itu, aku mau mentalaknya. Bagaimana dengan kamu?, Tanya Rasulullah kepada sang istri: Kalau perlu saya tambah, ya Rasul. Maka lalu perceraian terjadi. [Rawai al-Bayan, 237:I].

Yang sekarang lazim terjadi adalah fasakh. Alasan gugat cerai yang dikemukakan PP No 9 1975, diantaranya menjadi alasan kebolehan pihak istri melakukan fasakh, semisal istri ditinggal selama 2 tahun tanpa kabar berita. Dalam khazanah fiqh, aturan fasakh kurang lebih, sama dengan aturan gugat cerai dari pihak istri yang melahirkan cerai gugat.

Dalam hal apa saja, istri boleh mengajukan fasakh? Yang sering disebut para fuqaha, istri boleh meminta fasakh kalau suami tidak lagi mampu memberikan nafkah atau suami menghilang tanpa mengirim nafkah buat istrinya. Nafkah disini, lebih ditekankan pada nafkah lahir. Namun, kebolehan meminta fasakh dengan alasan ini karena pertimbangan dlarar (ketersiksaan, bahaya) yan dialami istri. Sebagaimana istri tersiksa karena tidak mendapat nafkah lahir, tentu saja ia juga tersiksa karena tidak memdapatkan nafkah batin. Maka mengapa fasakh dengan _ias_an tidak mendapat nafkah batin, tidak dibolehkan? Justru Umar membuat putaran pergantian serdadu yang dikirim ke luar daerah karena unjuk rasa para istri tentara itu. Mereka, istri-istri itu begitu tersiksa karena tidak mendapat nafkah batin dari suaminya. Padahal sekarang ini, tidak sedikit istri yang bisa cari uang sendiri. [Al-Hal?l wa al-Har?m Fi al-Isl?m, 213].

Selanjutnya, jalan panjang lewat jalur pengadilan yang ditempuh di negeri ini, mengharuskan sitri menghabiskan banyak uang untuk proses fasakh (gugat cerai). Maka jika istri tidak mampu melakukan proses penggugatan itu, cukuplah ia mencari muhakkam (misalnya, kyai) untuk memutuskan fasakh yang dilakukan cukuplah istri melakukan fasakh sendiri.

?????? ?????? ????? ?? ????? ????????? ?? ???????? ??? ????????? ??? ???????? ??? ??? ?? ???? ??? ?????? ????? ????????? ??????? ????????????? ? ???????? ?????? ??????????

Jika qadli (hakim) dan muhakkam tidak ada di tempat tinggal istri, atau ia (istri) tidak mampu mengajukan kepada qadli, seperti qadli berkata: aku tidak akan memfasakh kecuali kau berikan aku sejumla harta maka ia bisa melakukan fasakh sendiri karena darurat. Dan fasakh itu jadi, dzahir-bathin. [Ianah at-th?lib?n,92:IV].

Namun sekali lagi, perangkat fiqh ini semata-mata jalan alternative bagi istri yang hendak melepaskanikatan nikah karena tersiksa, menderita akibat ulah suaminya. Sehingga kata darurat disini betul-betul harus diperhatikan. Selebihnya, jika masih ada kemungkina bisa akur, kembali harmonis dan membina rumah tangga mengapa mesti ada perceraian?