MENGURUS JANAZAH NON MUSLIM

Jumat, 27 Februari 2015 16:43 WIB
1005x ditampilkan Bahtsul Masail Mahad Aly Tanwirul Afkar Mengurus Jenazah Orang Kafir Menguburkan Jenazah Oragn Kafir Bersama Orang Mus Mengurus Jenazah Mengantar Jenazah Orang Kafir

MENGURUS JANAZAH NON MUSLIM

Keberagaman agama di negara kita tercinta ini, mengharuskan kita selalu bersinggungan dengan mereka yang non muslim. Jika kita sedikit menengok ke daerah-daerah yang penganut agama islam dan non muslimnya relatif berimbang maka kita akat melihat kebersinggungan mereka hampir dalam semua lini, mulai dari hal-hal yang bersifat sakral (agama) atau pun profan (dunia). Kebersinggungan seperti ini harus kita maklumi, sebagai warga negara yang baik dan penganut agama yang taat sudah selayaknya kita menjaga keharmonisan antar sesama bangsa sebagaimana itu terkandung dalam pancasila dan juga menjaga keharmonisan beragama sebagai bentuk dari rahmatan lilalamin.

Fenomena seperti ini merupakan ajang pembuktian bahwa islam benar-benar rahmatan lilalamin dan hal ini hanya bisa dibuktikan oleh para pemeluknya, karena segala gerak-gerik dan tindak-tanduk merekalah yang akan dinilai sebagai representasi dari karakter Islam. Oleh karena itu, toleransi beragama merupakan harga mati yang harus kita peragakan sebagai bukti rahmatan tersebut. Berangkat dari kenyataan seperti ini, banyak saudara kita yang sudah membuktikan bahwa islam memang agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, meskipun di sisi lain juga banyak oknum-oknum yang mencoreng keindahan islam.

Interaksi kita dengan mereka (non muslim) yang menuai pro-kontra tentu membutuhkan penyelesaian, baik secara fikih maupun sosial. Salah satu masalah yang membutuhkan penyelesaian secara fiqh misalnya, kasus yang sudah lumrah terjadi namun hampir luput dari perhatian kita kaum bersarung (kata yang digunakan untuk menggambarkan para pegiat fikih), yaitu, bagi kaum muslim yang bertetangga dengan warga non muslim -untuk menjaga keharmonisan antara tetangga- ketika tetangga yang non muslim mendapat musibah semisal dipihak mereka ada yang meninggal dunia maka dari pihak muslim akan ikut nimbrung, mulai dari ikut mempersiapkan jamuan bagi para pelayat sampai ikut mengantarkan ke pemakaman umum (tasyyi) dan menziarahinya di kemudian hari, bahkan lebih dari itu terkadang mereka dimakamkan di pemakaman orang Islam. Tentunya hal yang seperti ini sangat membutuhkan jawaban fiqh, agar kita bisa tau apakah perbuatan kita sudah susuai dengan syariat ataukah tidak, mengingat baik buruknya perbuatan manusia hanya bisa dijangkau dengan teks syariat bukan dengan akal. (Jamu al-Jawami, 96-98)makam3

Melihat kasus di atas ada beberapa hal yang harus diputuskan hukum fikihnya yaitu, hukum mengiring jenazah non muslim ke pemakaman (tasyyi), hukum mengunjungi/melayat keluarga mayit (taziyah), hukum menziarahi makam tersebut dikemudian hari (ziarah qubur) dan hukum menguburkan mereka di pemakaman orang Islam (dafnuhu fi maqbari al-muslimin). Menanggapi kasus yang pertama, hukum mengiring janazah non muslim ke pemakaman (tasyyi), Ulama fikih sepakat tentang kebolehannya jika yang meningal adalah paman. Hukum ini berdasarkan kajian historis dan hadis nabi. Sejarah mencatat, pada waktu Sayyidina Abu Thalib wafat, Nabi Muhammad Saw. ikut mengantarkan jenazah Abu Thalib -paman beliau yang belum berucap syahadat- ke pemakaman. Kejadian ini juga menjadi hadis yang tentu lebih diperhitungkan kehujjahannya daripada sekedar sejarah. (Asnal Muthalib fi Syarhi Raudha al-Thalib, hal.312)

Kemudian Ulama berbeda pendapat apakah kerabat selain paman atau bahkan orang-orang yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah bisa disamakan (diqiyaskan) dengan paman dalam hal kebolehan tassyi (mengiringi ke pemakaman)? Imam al-Adzrai mengatakan, bahwa orang-orang yang masih memiliki hubungan keluarga dengan kita termasuk seorang istri bisa diqiyaskan dengan paman, dalam artian sama-sama boleh mengiringi jenazah mereka ke pemakaman meskipun beragama non Islam. Sedangkan, jika jenazah tersebut sama sekali tidak memiliki hubungan dengan kita, semisal tetangga atau teman dan sebagainya, ulama dihadapkan pada diskusi yang sangat alot sehingga masih membutuhkan perenungan ulang. (Hasyiah al-Jamal Ala Syarhi al-Minhaj, 167)

Yusuf al-Qordhowi menyebutkan dalam salah satu karya monumentalnya Fiqhul Aqalliyat, bahwa Ulama Madzhab mengklasifikasi masalah tasyyi (mengiring) jenazah orang non muslim yang sama sekali tidak memiliki hubungan famili dengan musyayyi (pengiring) yang beragama Islam. Masih menurut al-Qordhowi, ulama sepakat memperbolehkannya apabila mengiringi jenazah tersebut diyakini mengandung mashlahah diniyah (keuntungan dalam beragama) dan dapat menghilangkan mafsadah (kesenjangan). Namun jika dalam praktiknya tidak diyakini adanya hal-hal yang disebutkan tadi, ulama Syafiiah dan Hanafiah masih membolehkan tasyyi sedangkan menurut Malikiyah dan Hanabilah tasyyi dalam kasus seperti ini tidak boleh. (Fiqhu al-Aqalliyat, 248)

Kedua, melayat (taziyah). taziyah merupakan serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh setiap masyarakat ketika ada anggota keluarga dari mereka yang meninggal, terlepas apakah janazah tersebut muslim atau non muslim sebagaimana telah digambarkan pada pembahasan sebelumnya. Secara bahasa taziyah berarti menghibur, dan secara syara taziyah berarti menenangkan keluarga janazah agar selalu bersabar menghadapi musibah yang menimpanya. Ulama Syafiiyah berpendapat bahwa hukum taziyah adalah sunnah, baik taziyah kepada sesama muslim atau kepada non muslim sebagaimana kesunnahan iyadah (menjenguk ketika mereka sakit). Namun ulama membedakan apa yang harus diucapakan kepada keluarga janazah. Menurut para ulama jika janazah tersebut muslim maka disunnahkan mengatakan adhoma allahu ajraka (semoga Allah memperbanyak pahalamu), wa ahsana azaaka (semoga Allah memperindah duka citamu), wa ghofaro limayyitika (semoga Allah mengampuni dosa keluargamu yang meninggal). Dan jika janazah tersebut kafir maka hanya boleh mengatakan adhoma allahu ajraka (semoga Allah memperbanyak pahalamu), wa ahsana azaaka (semoga Allah memperindah duka citamu) wa alhamaka al-shabra (semoga Allah membuatmu sabar) tidak boleh mengatakan wa ghofaro limayyitika (semoga Allah mengampuni dosa keluargamu yang meninggal) karena ummat islam sangat dilarang mendoakan non muslim agar dosa-dosanya diampuni. (Raudlatu at-Tholibin wa Umdat al-Muftin, hal.145; Kifaya al-Nabih fi Syarh at-Tanbih,175)

Ketiga, ziarah kubur. Menurut Imam Asnawi, ziarah kubur adalah perkara sunnah yang sebaiknya dilakukan oleh setiap insan karena dengan melakukan ziarah kubur seseorang akan mengingat mati sehingga mereka akan mempersiapkan bekal akhiratnya. Masih menurut beliau, kesunnahan melakukan ziarah kubur ini hanya jika dimaksudkan untuk mengambil pelajaran (itibar) menunjukkan rasa belas kasih (tarahhum), mengingat mati (tadzakkurul maut) dan ingin mendoakan orang yang mati. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Imam al-Zarkasyi. Dengan begitu, kesunnahan ziarah kubur juga bisa didapatkan meskipun kuburan yang didatangi adalah kuburan non muslim selama tujuannya adalah itibar dan tadzakkur al-maut (mengingat mati), tidak dalam rangka mendoakan mereka. (Hawasy as-Syarwani, 200:III)

Itibar (mengambil pelajaran) dan tadzakkur al- maut (mengingat mati) adalah hal-hal yang tidak hanya bisa didapatkan kektika berziarah ke kuburan muslim, dua hal tersebut juga bisa kita dapatkan ketika berziarah ke kuburan orang-orang non muslim, bahkan untuk kuburan orang-orang tertentu yang semasa hidupnya menjadi panutan lebih baik untuk didatangi dari pada orang muslim yang semasa hidupnya tidak memiliki peran di masyarakat atau bahkan hanya menjadi sampah masyarakat. Dengan begitu tujuan itibar yang diinginkan dari ziarah kubur akan benar-benar tercapai.

Apabila ziarah kubur tersebut bertujuan untuk mendoakan janazahnya maka ulama sepakat bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan jika jenazahnya non muslim. Hal ini berangkat dari pehaman mereka terhadap ayat al-Quran surah at-Taubah ayat 113. Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa tidak selayaknya bagi seorang Nabi dan orang-orang yang beriman mendoakan orang musyrik agar dosa-dosanya diampuni meskipun mereka memiliki hubungan famili. Menurut Imam Abu al-Hajjaj al-Mahzumi ayat ini turun pada saat ada dua orang laki-laki yang berdoa agar dosa-dosa kedua orang tuannya yang musyrik diampuni oleh Allah dan bertanya kepada Nabi perihal hukum dari perbuatannya tersebut, kemudian Nabi menjawab kami juga berdoa agar para pendahulu kami yang musyrik diampuni dosa-dosanya, kemudian turunlah ayat tersebut sebagai bentuk teguran kepada Nabi.

Keempat, memakamkan orang non muslim di pemakaman orang Islam. Pemandangan semacam ini akan sering kita jumpai ditempat-tempat yang anggota masyarakatnya sudah dewasa dalam menanggapi sebuah perbedaan serta sadar akan kemajemukan bangsa indonesia yang terdiri dari bermacam-macam penganut agama berbeda. Sikap seperti inilah yang harus kita tunjukkan kepada mereka agar mereka tahu bahwa agama Islam adalah agama damai bukan agama teroris. Karena belakangan, julukan yang terahir ini tampaknya sudah menjadi icon Islam akibat ulah oknum-oknum yang mengatasnamakan Islam padahal perbuatannya sama sekali tidak mencerminkan islam yang rahmatan lilalamin.

Kembali kepembahasan tentang orang non muslim yang dimakamkan di pemakaman orang Islam, ternyata kejadian seperti ini tidak luput dari perhatian para expert (mujtahid) fikih, ini terbukti dari beberapa teks-teks fikih yang secara detail membahasnya. Jawaban-jawaban yang mereka hasilkan menggambarkan karakter mereka yang toleran dan betapa Islam itu adalah agama yang penuh dengan kemudahan. Sependek pembacaan penulis terhadap kitab-kitab fikih klasik, ternyata mereka tidak sepenuhnya melarang non muslim dimakamkan di pemakaman orang islam begitu juga sebaliknya, artinya masih ada peluang untuk melakukan peraktek sebagaimana di atas (mengebumikan orang non muslim di pemakaman orang Islam) jika hal itu menjadi pilihan terakhir. Akan tetapi, apabila ada cara lain selain cara di atas maka ulama sepakat bahwa hukum mengebumikan orang non muslim di pemakaman orang Islam tidak boleh, ketidak bolehanan di atas didasarkan pada asumsi bahwa janazah muslim akan merasa terganggu jika disampingnya ada janazah non muslim, yang bisa dipastikan janazah akan mendapat kunjungan dari dua Malaikat Munkar dan Nakir untuk disiksa sehinga menurut mereka jenazah muslim akan terganngu dengan adanya siksaan tersebut. (Fiqh al-Aqalliyat, 247:I; al-Muhaddzab fi Fiqhi al-Imam as-Syafii li al-Syairozy, 254:I)

Dewasa ini, isu-isu perbedaan nampaknya mulai diangkat lagi kepermukaan setelah sekian lama fakum, sehingga tidak heran jika hal ini menyulut lagi api permusuhan yang sudah lama padam. Tidak hanya perbedaan antar agama tapi perbedaan antar ormas keagamaan pun sudah mulai menjadi dinding pemisah yang begitu kokoh diantara kita kalangan umat muslim sendiri. Sekat-sekat itulah yang selama ini secara tidak sadar menjadi penyebab perkelahian ideologi dikalangan muslim, padahal mereka secara sadar mengetahui bahwa mereka masih berada dalam satu panji Islam.

Dalam menjalani agama, seorang muslim tidak hanya membutuhkan kecerdasan spiritual akan tetapi juga membutuhkan kedewasaan karakter sehingga bisa memaklumi dan mengendalikan perbedaan yang terjadi dikalangan kita umat Islam atau bahkan antar agama untuk tetap supaya tidak menjadi lapisan tebal yang mencerai-beraikan kita sebagai warga negara (ukhwah wathoniah). Kedewasaan inilah yang nantinya akan mengantarkan kita untuk menjadi insan yang saleh spritual, saleh sosial dan saleh ekologis. Wallahu alam bi al-shawab