Sibuk? Dijamak Aja Salatnya!

Jumat, 27 Februari 2015 16:30 WIB
304x ditampilkan Bahtsul Masail Mahad Aly Tanwirul Afkar Salat Jamak Hukum Salat Jamak Sibuk

Sibuk? Dijamak Aja Salatnya!

Edisi 473 / 03 Juni 2011

Saat melakukan perjalanan jauh, agar tidak terlalu sering berhenti untuk melakukan salat dan biar lebih meringankan, maka lebih baik salatnya dijamak. Hal ini sudah biasa dilakukan oleh umat Islam. Tapi bagaimana kalau kita salat dengan alasan sibuk, bisa tidak ya?

Ada ungkapan yang sering kita dengar, pertumbuhan dan persaingan di masa sekarang ini sangat cepat. Kalau kita tenang-tenang saja maka kita akan tergilas.. Ungkapan ini menggambarkan bagaimana etos kerja setiap orang harus baik. Karena hanya dengan hal itulah bisa menjalani kehidupan sesuai dengan keinginannya. Dengan begitu, berarti manusia dituntut untuk beraktivitas secara baik agar kehidupan yang dicita-citakan tercapai.

Akan tetapi, bukan lantas kesibukan keduniaan akan melupakan kita akan kewajiban yang harus kita penuhi, yaitu berupa tuntutan untuk terus menjaga hubungan dengan sang pencipta, Allah Swt. Kita tidak boleh lupa untuk terus beribadah kepada-Nya. Ibadah inilah yang akan mengantarkan kita pada kebahagiaan yang abadi di sisi-Nya. Kebahagiaan yang seandainya semua orang menyadarinya, pasti tidak akan terlena dengan fatamorgana gemerlapnya dunia.

Sayangnya, kita terkadang sampai pada suatu keadaan di mana tuntutan dunia dan akhirat berbarengan. Dalam bahasa lain, satu sisi kita harus melakukan aktivitas keduniaan dan di sisi lain harus beribadah. Misalnya, kita disibukkan dengan pekerjaan yang sulit atau tidak bisa ditinggalkan, karena bisa merugikan, padahal kita wajib salat.

Terkadang juga kita bisa melakukan salat, karena keadaan yang tidak memungkinkan. Contohnya, ketika terjebak kemacetan. Sedangkan untuk melakukan salat jamak merasa tidak bisa, karena belum sampai jarak diperbolehkannya jamak.

Dari gambaran yang disampaikan tersebut, timbul pertanyaan yang butuh kajian mendalam, yaitu apakah boleh melakukan salat jamak ketika seperti itu? Atau bisa dibahasakan, bagaimana tanggapan fikih terhadap salat jamak bagi orang yang tidak melakukan perjalanan al-Jamu fi al-Hadlar?

Islam tidak lain adalah agama yang selalu memberikan kemudahan kepada pemeluknya. Ajaran-ajarannya selalu bisa dilakukan dengan mudah oleh pemeluknya. Bahkan ketika ada ajaran yang terasa memberatkan kepada hambanya, ajaran tersebut akan dipermudah. Prinsip untuk memberikan kemudahan ini sesuai dengan sabda Nabi berikut,

???????? ???????? ???????????????? ???????????

Pada dasarnya aku diutus untuk membawa (ajaran/agama) yang toleran dan mudah. [al-Mujam al-Kabi?r, 170:VIII]

Hadis tersebut hanya salah satu dalil yang menyatakan bahwa ajaran Islam mudah. Masih banyak lagi dalil, baik al-Quran atau al-Hadits yang secara jelas menyampaikan hal ini. Misalnya penggalan ayat 185 dalam surat al-Baqarah.

Pesan-pesan adanya kemudahan ini diaplikasikan langsung dalam ajaran Islam. Salah satu contoh konkritnya dengan dibolehkannya salat jamak, yaitu mengerjakan dua salat fardhu dalam satu waktu. Tentu saja, kebolehan jamak ini cukup memberikan kemudahan bagi umat Islam. Mereka tidak perlu lagi memikirkan untuk mengerjakan salat di setiap waktu, karena Salatnya telah dikerjakan pada waktu sebelumnya (jamak taqdim), atau mau dikerjakan pada waktu berikutnya (jamak takhir).

Dalam masalah salat jamak, secara umum, para imam Mazhab terbagi menjadi dua. Pertama, yang menyatakan bahwa salat jamak hanya boleh dilakukan ketika perjalanan haji di Arafah atau Muzdalifah. Jadi, menurut pendapat ini, selain perjalanan haji tidak boleh melakukan jamak. Bagi mereka, illat dari jamak bukanlah safar (perjalanan), melainkan nusuk (ibadah haji). Pendapat ini, disampaikan oleh Abu Hanifah dan pengikutnya, yang didasarkan atas apa yang dikerjakan Nabi. [Fath al-Mu?n. 469:II, al-Ikhtiya?r li Tali al-Mukht?r, 3:I, Bad?iu al-Shan?i, 11:II]

Pendapat kedua, disampaikan oleh kalangan jumhur. Menurut mereka, boleh melakukan jamak saat perjalanan apapun, dengan syarat sudah sampai diperbolehkannya salat qashar, yaitu 16 farsakh. Banyak hadis yang dijadikan sandaran untuk pendapat ini, salah satunya hadis berikut,

???? ??????? ????? ????????? ???? ???????? ????? ??? ???? ???? ???? ??? ???????? ???????? ??????? ???????? ????????? ??????????? ????????? ????????????? ???????????? ?????????

Diriwayatkan dari Muadz dia berkata: Kami keluar bersama Rasulullah Saw. Saat perang tabuk, (ketika itu) beliau salat dzhuhur dan ashar dengan cara dijamak, salat maghrib dan isya juga dengan cara dijamak. [Shahih Muslim, 460:IV]

Kalangan Hanafiyah tidak setuju dengan pendapat Jumhur dengan mengeluarkan sanggahan. Menurut mereka hadis-hadis yang menjelaskan tentang kebolehan jamak pada selain perjalanan haji bukanlah salat jamak seperti yang kita pahami. Akan tetapi dikenal dengan jamak shury, yaitu mengakhirkan salat yang pertama dan mengerjakan salat yang ke dua di awal waktunya. [Ib?natu al-Ahk?m, 45:II, Bid?yatu al-Mujtahid, 162]

Jumhur pun menjawab sanggahan kalangan Hanafiyah, dengan mengatakan bahwa sanggahan ini tidak benar. Sebab menurut mereka, dalam dhahir hadis tersebut tidak mengatakan demikian. Tidak ada yang mengindikasikan bahwa maksud kata jamak pada hadis tersebut adalah jamak shury. Maka tidak perlu diarahkan kepada jamak shury. Apalagi untuk penggambaran jamak shury tidak tertentu pada Dhuhur-Ashar dan Maghrib-Isya, Ashar-Maghrib pun bisa. Dengan demikian, pendapat jumhur ini lebih kuat daripada pendapat Hanafiyah. [Fathu al-Ba?ry li Ibni al-Hajr, 315:II]

Selanjutnya, apakah yang memperbolehkannya salat jamak hanya safar, dengan bahasa lain, apakah orang yang tidak melakukan perjalanan juga diperbolehkan salat jamak?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perhatikan hadis berikut,

???? ????? ???????? ????? ?????? ??????? ??????? ??? ???? ???? ???? ?????? ????????? ??????????? ????????????? ???????????? ???? ???????????? ???? ?????? ?????? ????? ?????? ??????? ??????? ???????? ??? ??????? ????? ?????? ????? ??????? ???? ??? ???????? ?????????.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas beliau berkata: Nabi Muhammad Saw menjamak dzhuhur dan ashar serta menjamak maghrib dan isya saat di Madinah tanpa disebabkan adanya rasa khawatir dan tanpa adanya hujan. Lalu Ibnu Abbas ditanya, Apa yang diinginkan Nabi dari apa yang beliau lakukan?, beliau menjawab, Agar tidak mempersulit pada umatnya. [Sunan Abi Daud, 387:I]

Dalam redaksi lain tidak menggunakan kata ????? ?????? tapi dengan redaksi ????? ??????. Sehingga kesimpulannya, Nabi pernah menjamak saat tidak takut, hujan, dan tidak sedang melakukan perjalanan. Hadis ini tentu berbeda dengan hadis sebelumnya. Pada hadis sebelumnya, dijelaskan kebolehan jamak saat melakukan perjalanan. Sedangkan dalam hadis ini, tidak disebutkan alasan apapun yang menjadi penyebab Nabi melakukan jamak. Dengan begini, seakan-akan Nabi melakukan salat jamak di rumah (fi al-hadlar) tanpa alasan apapun. Dan berarti kalau mau mengambil dhahirnya hadis tersebut, maka umat Islam bisa melakukan salat jamak kapanpun saja, saat tidak melakukan perjalanan.

Namun, walau ada hadis tersebut, jumhur tetap tidak sembarangan dalam menentukan sesuatu yang memperbolehkan salat jamak fi al-hadlar. Mereka tidak memperbolehkan salat jamak secara mutlak. Mereka masih menentukan dan membatasi hal-hal yang menyebabkan kebolehan salat jamak bagi orang yang tidak melakukan perjalanan.

Dalam pandangan Malikiyyah, salat jamak fi al-hadlar bisa dilakukan ketika adanya sakit, takut, atau hujan. Ada juga di kalangan Malikiyyah yang memberikan syarat tambahan bagi kebolehan jamak saat hujan, yaitu bahwa hujan harus pada malam hari, sehingga yang boleh dijamak hanya maghrib dan isya, bukan dhuhur dan ashar. Karena dalam pandangan mereka, orang tidak terpengaruh saat terjadi hujan pada malam hari, dalam arti mereka masih bisa melanjutkan pekerjaan dunia, semisal mencari berdagang. Sehingga hal yang lebih penting, dalam hal ini salat, juga tidak boleh terpengaruh karena hanya terjadi hujan pada siang hari. [al-Muntaqa fi Syarh al-Muwaththa, 342:I, Fatawa al-Azhar, 55:IX]

Pandangan Malikiyyah ini berbeda dengan pandangan mayoritas Syafiiyyah yang hanya memperbolehkan jamak fi al-hadlar saat hujan. Sedangkan saat sakit dan takut tidak diperbolehkan jamak. Pendapat ini dilandaskan bahwa tidak adanya dalil hadis yang menjelaskan bahwa Nabi pernah melakukan salat jamak saat sakit. Padahal Nabi juga pernah sakit. Namun menurut sebagian Syafiiyah (diantaranya Qadhi Husain, Qadhi Mutawalli, dan al-Ruyani) orang yang takut dan sakit boleh menjamak salat, baik jamak taqdim atau jamak takhir. [al-Majm?, 321:IV]

Pendapat lebih longgar disampaikan oleh ulama Hanabilah. Menurut mereka jamak fi al-hadlar boleh dilakukan oleh; 1) orang sakit. 2) perempuan yang menyusui, bagi mereka yang merasa kesulitan untuk bersesuci di setiap waktu. 3) orang yang tidak mampu bersesuci di setiap waktu. 4) orang yang tidak mampu mengetahui masuknya waktu salat, seperti orang buta. 5) perempuan yang istihadhah. 6) orang yang sibuk atau udzur yang diperbolehkan untuk tidak salat Jumat. Misalnya, orang yang terancam kehilangan hartanya atau yang akan terganggu penghasilannya. Berdasarkan yang terakhir ini, dalam pandangan Hanabilah, petani yang benar-benar disibukkan dengan pekerjaannya boleh menjamak salat. [Kasysyafu al-Qinna? An Matni al-Iqna, 74-78:IV, al-Inshaf, 440:III, al-Fiqhu al-Isla?my wa Adillatuhu?, 508-509:II]

Selain pendapat-pendapat yang disebutkan di atas, ada juga pendapat yang paling longgar, yaitu pendapatnya Ibnu Mundzir dari kalangan Syafiiyyah serta Ibnu Sirin dan Asyhab dari kalangan Malikiyyah. Menurut mereka boleh menjamak salat ketika ada hajat (kebutuhan), asalkan tidak dijadikan kebiasaan. Pendapat ini didasarkan pada dhahir hadis yang tidak memberikan penjelasan faktor apa yang menjadi penyebab Nabi menjamak salatnya. [Tuhfatu al-Ahwadziy, 215:I, Syarh al-Muslim ala an-Nawawiy, 317:III]

Pendapat ini sesungguhnya cukup beralasan. Mengingat bahwa hadis tersebut termasuk hadis filiy yang lebih memiliki banyak kemungkinan dari pada hadis qouliy. Penjelasan kenapa Nabi ketika itu melakukan jamak fi al hadlar. Yang dijelaskan hanya bahwa Nabi melakukan jamak dalam keadaan tidak melakukan perjalanan, takut, dan tidak sedang hujan. Dijelaskan pula bahwa Nabi melakukan itu agar mempermudah kepada hambanya. [Bida?yatu al-Mujtahid, 162]

Setelah mengikuti paparan di atas, ada hal yang perlu dipahami bahwa salat adalah tiang agama (Imadu al-Din ) dan jamak disyariatkan untuk memberikan kemudahan. Oleh karenanya, senyampang kita bisa melakukan salat di setiap waktunya, maka lebih baik tidak melakukan jamak. namun apabila hal itu memberatkan, atau bisa melalaikan salat kita maka lebih baik mengikuti pendapat yang terakhir ini. Seperti orang yang betul-betul tidak bisa meninggalkan pekerjaannya atau bagi yang terjebak kemacetan. Tapi dengan catatan tidak dijadikan kebiasaan. Catatan ini menunjukkan bahwa salat jamak ketika keadaan seperti itu sangat dibutuhkan, karena untuk memudahkan bagi kita. Dan bukankah Islam memang agama yang memberikan kemudahan!.