IKUT KB! SIAPA TAKUT?

Senin, 2 Maret 2015 17:45 WIB
514x ditampilkan Mahad Aly Tanwirul Afkar Keluarga Berencana KB Menurut Islam Vasektomi Dan Tobektomi Alat Kontrasepsi Buletin Tanwirul Afkar

IKUT KBSIAPA TAKUT?

Edisi: 78/ Jumat ke-2/ 8 Oktober

Meski sudah lama diberlakukan, nampaknya isu KB masih demikian aktual. Apalagi ternyata, KB belum 100% menyelesaikan masalah kependudukan selama ini. Bagaimana sebenarnya tentang KB ini?

Barang kali semua orang sepakat bahwa pasangan suami-isteri selalu merindukan anak si buah hati dalam rumah tangganya. Perjalan biduk cinta yang dibina mereka berdua akan terasa hambar, tanpa kehadiran si anak. Rumah terasa sepi, sunyi tanpa tangis dan tawa anak. Jangan heran jika banyak pasangan yang terpaksa cerai gara-gara lama tak mempunyai anak. Anak juga merupakan dambaan hidup orang tua, tak lain karena ia merupakan satu-satunya yang bisa diharap kelak. Wajar jika orang tua sampai bekerja keras, peras keringat, banting tulang hanya demi kebaikan anaknya.

Satu hal penting yang patut dicatat, bahwa si anak inilah yang bisa menjamin kelangsungan hidup manusia di dunia. Karena, dengan inilah jumlah manusia akan terus bertambah. Jumlah penduduk juga akan semakin besar, dari tahun ke tahun, dari abad ke abad. Jumlah penduduk yang besar, disamping merupakan potensi yang bisa dikembangkan, juga malah menjadi momok. Ini terjadi ketika jumlah yang besar ini tidak dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Dalam kondisi ini, jumlah yang besar ini malah menyisakan banyak problem seperti pengangguran, kemiskinan, kelaparan, pendidikan, kesehatan, dll. Akibatnya, kesejahteraan yang diidam-idamkan sulit diwujudkan. Karena tertekan oleh pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan daya dukung, untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam segala bidang kehidupan. Apalagi, ditambah dengan penyebaran penduduk yang tidak merata, mengakibatkan suatu daerah menjadi padat.

Di sinilah, kemudian pentingnya pemerintah mencanangkan program Keluarga Berencana (KB). Tujuannya, menurunkan tingkat pertumbuhan penduduk. Dengan KB, masalah-masalah seperti yang tersebut di atas bisa diminimalisir. Sebab, dalam KB, suami isteri telah mempunyai rencana yang konkret mengenai kapan anak diharapkan lahir. ciputranews_1370561647Berapa anak yang dicita-citakan, disesuaikan dengan kemampuannya dan situasi dan kondisi masyarakat. Jadi, penekanan KB pada perencanaan, pengaturan, dan pertanggungjawaban orang terhadap anggota keluarganya. Pertanyaan yang timbul kemudian, bagaimana pandangan fikih tentang KB? Kalau diperbolehkan, alat kontrasepsi macam apa yang dilegalisasi syara?

Masih ingat dengan salah satu tujuan perkawinan dalam TA Edisi 76! Yakni, untuk menyalurkan kebutuhan biologis. Dalam TA Edisi ini, tulisan TA akan menyorot salah satu tujuan perkawinan yang lain. Yaitu, untuk mendapatkan keturunan.

Setiap pasangan suami isteri jelas mendambakan keturunan. Tanpa keturunan, kehidupan keluarga terasa hampa. Buktinya banyak pasangan yang merasa resah jika tidak segera memperoleh keturunan. Bahkan, tidak segan-segan mereka menggunakan segala cara untuk mendapatkannya.

Makanya, harus kawin. Melalui perkawinan, manusia berkembang biak. Lalu secara alamiyah, suatu generasi akan terus menggantikan generasi sebelumnya. Begitu seterusnya. Mereka yang hidup di masa sesudahnya, diharapkan dapat meneruskan perjuangan para pendahulunya. Dalam konteks agama Islam, hal ini sangat penting. Sebab, masa depan Islam bergantung pada generasi penerusnya. Jika mereka berkualitas, dipastikan dapat mengantarkan manusia menuju masa depan yang cemerlang. Sebaliknya, jika mereka asal-asalan, tentu akan membawa pada kondisi yang suram. Dalam kerangka ini Rasulullah saw. bersabda:

??????????? ?????????? ?????????? ???????? ????????? ??????

Nikahilah wanita yang subur (berpotensi memberikan banyak keturunan) dan yang mencintaimu. Karena aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian. [Sunan an-Nasiy, 66:VI].

Hadis di atas menganjurkan kita untuk menikahi wanita yang subur dan sangat kasih sayang. Dengan dua hal ini, diyakini pasangan suami isteri muslim bisa melahirkan keturunan. Dengan demikian, kaum muslimin menjadi bertambah banyak. Sebab, hal ini akan memperkokoh kaum muslimin. Baik secara mental maupun fisik, moril maupun material.

Meskipun demikian, anjuran Islam untuk memperbanyak anak, bukan berarti bebas tanpa ada syarat. Islam memerintahkan kepada orang tua agar memelihara dan mendidik anak secara baik dan benar. Orang tua tidak boleh menelantarkan mereka. Ketika masih bayi, anak harus disusui, dirawat dan memperoleh kasih sayang yang cukup. Setelah dia tumbuh besar, anak berhak memperoleh penghidupan dan pendidikan yang layak. Sehingga kelak benar-benar menjadi generasi yang berkualitas. Berkaitan dengan masalah ini, Rasulullah saw. bersabda:

??????? ???? ?????? ???????????? ??????????? ?????? ???? ???? ?????????? ??????? ?????????????? ????????

Sesungguhnya lebih baik bagimu meninggalkan ahli waris dalam keadaan berkecukupan dari pada meninggalkan mereka menjadi beban tanggungan orang banyak. (HR. Bukhri). [Fathu al-Bry, 269:VII, al-Muwattho, 502]

Dalam al-Quran juga disebutkan:

????????? ????????? ???? ???????? ???? ?????????? ?????????? ???????? ??????? ?????????? ????????????? ??????? ????????????? ??????? ????????

Dua nas (hadis dan ayat) ini memberikan isyarat bahwa kemampuan memenuhi kebutuhan anak menjadi pertimbangan utama dalam menambah jumlah anak. Orang tua tidak boleh sebanyak-banyaknya 'membikin' anak jika kebutuhan mereka tidak terpenuhi secara optimal. Sebaliknya, pasangan suami isteri harus mengatur jarak kelahiran anak-anaknya. Sehingga, anak dapat tumbuh dengan baik dan normal karena terpenuhi kebutuhannya. Bahkan, jika menambah jumlah anak tapi malah menjadikan mereka terlantar, sebaiknya ia menunda kehamilannya.

Bertolak dari pertimbangan ini, program KB bertujuan untuk mengatur keturunan (tandzmun nashl) bisa dibenarkan oleh fikih. Apalagi, upaya yang sejenis dengan KB pada zaman Nabi sebenarnya sudah ada. Terbukti ada sebagian sahabat yang melakukan azl. Yakni proses penarikan dzakar lelaki waktu bersenggama hampir mengeluarkan sperma. Kepentingannya untuk mencegah pembuahan pada ovum. Jabir meriwayatkan:

?????? ???????? ????? ?????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???????????? ????????

Kami melakukan azl pada zaman Nabi padahal al-Quran saat itu sedang turun [Bukhri, 262:III]

Meskipun diperbolehkan, sebagian besar fukahasetelah melihat ada hadis `Aisyah yang melarang keras azlmenghukumi makruh azl. Masuk dalam kategori ini, golongan Syafiiyah dan Hanabilah. Ini sebagai jalan tengah untuk mengkompromikan dua hadis yang nampaknya bertentangan. [al-Fiqhu al-Islmy, 554-555:III]

Menyamakan kebolehan ber-KB dengan kebolehan azl, karena sama-sama mengandung unsur tandzmun nasl, adalah diperkenankan. Dalam bahasa fikih, keduanya layak dikiyaskan.

Tapi apakah pengertian KB hanya khusus pada tandzmun nasl? Tidak. Sebab, pada kenyataannya, istilah KB ini dipakai secara lebih umum. Di samping bisa berarti tandzmun nasl (mengatur dan membatasi jumlah keturunan), KB juga bisa berarti iqth bil kulliyah (pemotongan kelahiran sejak awal). Untuk jenis yang terakhir (iqth bil kulliyah), tidak diperbolehkan karena tegas-tegas melakukan penghentian total tumbuhnya janin sejak semula. Penghentian total seperti ini disinyalir sama dengan melakukan pelanggaran terhadap hukum alam. [al-Bjry, 95:II, al-Fatw, 297, al-Islm Aqdah wa al-Syarah, 207]

Lalu bagaimana hukumnya berbagai alat kontrasepsi yang dipakai dalam KB?

Perlu diketahui, ada dua metode yang dipakai dalam alat kontrasepsi. Pertama, metode permanen. Memakai metode ini hampir bisa dipastikan bahwa si isteri tidak akan hamil. Atau dengan kata lain, mengakibatkan kemandulan. Misalnya berupa Vasektomi, pemandulan untuk laki-laki dan Tubektomi, pemandulan untuk perempuan. Akan tetapi, perkembangan terakhir, pakar medis tidak lagi memasukkan Vasektomi pada jenis permanen, tapi pada yang tidak permanen.

Kedua, metode tidak permanen. Artinya, metode yang masih diragukan, apakah dengan metode ini benar-benar si perempuan akan hamil atau tidak. Jenis ini biasanya hanya sampai pada tahap penjarangan kehamilan. Tidak sampai membuat mandul pasangan. Misalnya kondom. Alat kontrasepsi ini terbuat dari karet, di mana pemakaiannya dilakukan dengan cara di sarung pada kelamin laki-laki ketika akan bersenggama. Kemudian spiral, yaitu alat kontrasepsi yang di pasang pada rahim wanita berbentuk sulur batang. Ada juga yang menggunakan metode tak permanen ini, dengan suntikan atau pil tertentu.

Untuk dua penggunaan alat kontrasepsi ini, fikih hanya memberi catatan-catatan khusus. Antara lain, bahan yang dijadikan unsur utama dalam alat itu tidak mengandung najis. Penggunaan obat yang mengandung najis dilarang, sebagaimana dikatakan oleh Imam as-Syafiiy. Karena menurut Imam as-Syafiiy, Allah tidak mungkin menjadikan obat yang malah terdiri dari barang yang diharamkan, termasuk najis. [Mznu al-Kubr, 59:II]

Selanjutnya, alat kontrasepsi tidak boleh mengarah pada iqth bil kulliyah. Pemotongan secara total apa-apa yang ada pada janin, tidak diperbolehkan karena menyebabkan kemandulan. Dengan begitu, model alat kontrasepsi jenis permanen tidak diperkenankan karena dapat menyebabkan kemandulan. Selain itu, disyaratkan pula bahwa alat kontrasepsi dimaksud tidak boleh membuat mudharat pada pasangan suami isteri.

Family-clip-artTerakhir, dalam hal pemakaian alat kontrasepsi melalui dokter, harus disertai oleh suami atau mahramnya. Ini dilakukan ketika dokter dan pemakai alat kontrasepsi berlainan jenis. Jika dokter dan pemakai sejenis, jelas tidak disyaratkan hal tersebut. [al-Fiqhu al-Islmy, 563:III, al-Bjry, 102:II]

Untuk mengakhiri tulisan ini, ada baiknya jika kita mempertimbangkan pendapat Ibnu Taimiyah. Beliau memang sama sekali tidak mengutuk praktek tersebut. Akan tetapi, menganjurkan kita untuk berhati-hati menggunakan alat kontrasepsi. Ibnu Taimiyah lebih setuju jika wanita-wanita tidak memakai alat ini. Barang kali, ketika menggunakan alat ini para pemakainya malah akan ditimpa banyak mudharat. Falyataammal. [al-Fatw al-Kubr, 299:I]