Tak Ada Alasan Muslim Tak Berzakat

Selasa, 14 Juli 2015 22:21 WIB
149x ditampilkan Alumni Kewajiban Zakat Kenapa Harus Zakat Zakat Diwajibkan Kerana Alasan Kenapa Wajib Zakat

TAK ADA ALASAN MUSLIM TAK BERZAKAT

Oleh:

Dr. M.N. Harisudin, M. Fil. I

 

Muslim Indonesia adalah mayoritas. Namun, moslem majority ini tidak diimbangi dengan jumlah muslim yang berzakat (muzakki). Buktinya, perolehan jumlah zakat masih jauh dari yang diharapkan. Dari total potensi zakat di Indonesia yang 200 triliun, BAZNAS pada tahun 2014 hanya mencapai perolehan total zakat sebesar Rp. 3,2 triliun. Di tahun 2015 ini, seperti disebut Direktur Pelaksana BAZNAS, Teten Kustiawan, target perolehan zakat BAZNAS adalah Rp. 4,22 triliun. Tentu, demikian ini menunjukkan belum maksimalnya tergarap potensi zakat.di negeri ini. (www.antaranews.com).

Padahal, jumlah orang mapan di Indonesia meningkat tajam. Riset Standard Chartered Bank menyebut bahwa jumlah orang mapan atau berpenghasilan Rp. 240-500 juta per tahun mencapai 4 juta orang. Jumlah ini menempati urutan ketiga negara Asia kecuali Jepang setelah China dan India. Jumlah penduduk mapan China mencapai 23,3 juta orang, sedangkan India mencapai 5,2 juta orang. Jika dibandingkan dengan negara Asia, jumlah penduduk mapan Indonesia merupakan 9 persen dari populasi penduduk kaya Asia. (www.news.viva.co.id)

Tentu, ini menjadi ironi di sebuah negara dengan jumlah mayoritas muslim pertama di dunia dan jumlah orang mapan nomor tiga di Asia, namun perolehan zakatnya masih di bawah standard. Dalam pandangan penulis, at least, ada beberapa hambatan mengapa zakat belum familiar di sebagian besar umat Islam, sebagaimana berikut:

Pertama, minimnya kesadaran wajib zakat bagi seorang muslim. Kesadaran wajib zakat nampaknya kalah jauh dengan kesadaran wajib haji bagi seorang muslim. Padahal, kewajiban haji bagi seorang muslim hanya seumur hidup sekali, sementara kewajiban zakat berlaku berkali-kali senyampang mencapai nisab dan syarat lainnya. Tak heran, jika orang lebih memilih berbondong-bondong haji daripada berbondong berzakat. Orang berbondong zakatdalam hal ini zakat malmasih jauh dari yang diharapkan.

Kedua, jikapun ada kesadaran masif muslim, maka yang demikian ini kesadaran berzakat fitrah yang hanya setahun sekali. Kesadaran berzakat fitrah include menjadi bagian dari kesadaran beribadah puasa. Setelah menunaikan puasa Ramadlan, semua orang tanpa kecuali wajib membayar zakat fitrah. Zakat fitrah tidak melihat kaya-miskin, tua-muda dan laki-perempuan, semuanya wajib menunaikan zakat fitrah jika di malam hari raya dan esoknya memiliki kelebihan kecukupan makanan untuknya dan keluarganya. Tidak mengherankan jika karena ini, gema zakat fitrah jauh lebih meluas dan lebih merata.

Ketiga, minimnya kampanye dan sosialisasi tentang zakat baik melalui media, maupun langsung vis a vis dengan masyarakat. Sejauh pengamatan penulis ketika bertemu dengan pengurus takmir masjid pada sejumlah daerah di Indonesia, kampanye zakat dilakukan sangat minimalis sehingga pemahaman masyarakat tentang zakat masih rendah. Baik di kota maupun di desa, pemahaman yang diterima umat dirasakan masih sangat tradisional sehingga perolehan zakat tidak bisa digapai secara optimal. Demikian juga tentang sosialisasi regulasi zakat di negeri ini seperti UU. No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, UU. No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat serta PP No. 14 tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-undang No. 23 Tahun 2011.

Seandainya seorang muslim telah memahami semua initentunya setelah diberi pemahaman tentang fiqh dan regulasi zakat di Indonesiamaka tidak ada alasan baginya untuk tidak membayar zakat. Karena dalam konteks kita di negara Indonesia, regulasi telah dibuat sedemikian rupa agar memudahkan dan juga meringankan beban muzakki dalam menunaikan zakat.

Misalnya regulasi zakat pengurang penghasilan kena pajak yang telah ditetapkan dalam Undang-undang No. 23 Tahun 2011. Bahwa seorang yang telah membayar zakat dengan kwitansi pembayaran zakat dapat diajukan untuk pengurang penghasilan kena pajak. Dalam UU. No. 23 Tahun 2011 Pasal 23 ayat 2 disebutkan:Bukti setoran zakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai pengurang penghasilan kena pajak.

Dengan demikian, seorang muslim di negeri ini tidak dibebani ganda: zakat dan juga pajak. Adalah memberatkan jika di satu sisi seorang muslim membayar zakat dan di sisi lain ia masih tetap harus membayar pajak. Suatu langkah bijak dari pemerintah yang memberikan regulasi dengan tujuan meringankan bagi para muzakki. Ini bagi muzakki yang memandang pajak tidak berbeda dengan zakat. Sementara, bagai muzakki yang membedakan pajak dengan zakat, ia bisa saja mengabaikan kuitansi pembayaran zakat dan tetap membayar pajaknya secara utuh tanpa dikurangi pembayaran zakatnya.

Tidak jauh beda dengan UU. No. 38 tahun 1999, Undang-undang No. 23 Tahun 2011 memang belum memberi ancaman keras bagi orang muslim yang tidak menunaikan zakat. Namun cukuplah kiranya orang muslim belajar ancaman atau sangsi dari fiqh zakat. Seperti disebut dalam sebuah hadits: Lam yamnau zakata amwalihim illa muniu al-quthra minas samaai. Laula al-bahaimu lam yumtharu. (HR. Daruquthni dan Baihaqi). Artinya: Mereka tidak enggan membayar zakat harta mereka kecuali mereka dicegah dari tetesan air hujan dari langit. Seandainya tidak ada binatang ternak, maka mereka tidak akan diberi air hujan.

Ancaman keras lain kita dapati dari al-Quran sebagai siksa ukhrawiyahnya. Misalnya dalam al-Quran disebutkan: Orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah Swt., peringatkanlah mereka tentang azab yang pedih. Pada hari emas dan perak dipanaskan dalam api neraka, lalu dibakar dengannya dahi-dahi mereka, rusuk-rusuk dan punggung dan dikatakan pada mereka, Inilah kekayaan yang kalian timbun dahulu, rasakanlah oleh kalian kekayaan yang kalian simpan itu. (QS. At-Taubah: 34-35). Juga firman Allah Swt:Celakalah orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, yaitu orang-orang yang tiada membayar zakat dan mengingkari hari akhirat. (QS. Fusshilat: 6-7).

Walhasil, tidak ada alasan bagi muslim Indonesia untuk tidak berzakat. Semuanya telah sempurna menjadi kewajiban seorang muslim yang tidak bisa dibantah. Apalagi, berzakat melalui amil zakat profesional tentunya, akan juga turut serta melakukan pemberdayaan pada orang fakir dan miskin. Itu berarti juga membantu sesama saudara yang muslim. Tak perlulah kiranya ada perang terhadap orang-orang yang enggan berzakat (maniuz zakat) seperti di masa Khalifah Abu Bakar, karena umat Islam Indonesia akan sadar terhadap kewajiban berzakat.

Wallahualam. **

 

Dr. M.N. Harisudin, M. Fil. I

Konsultan ZISKAF AZKA Masjid al-Baitul Amien Jember

Dosen Pasca Sarjana IAIN Jember

Katib Syuriyah PCNU Jember

Pengasuh Ponpes Darul Hikam Jember

 

Alamat: Ponpes Darul Hikam

Perum Pesona Surya Milenia C.7 No. 6 Mangli Kaliwates Jember.

Telp: 082331575640. 081249995403. Email: mnharisudinstainjember@gmail.com