KULIAH UMUM BERSAMA PROF. KH. SAID AGIL HUSAIN MUNAWWAR

Rabu, 30 November 2016 17:01 WIB
271x ditampilkan Berita Utama Dosen

KULIAH UMUM BERSAMA PROF. KH. SAID AGIL HUSAIN MUNAWWAR

Beliau adalah guru besar dalam bidang Fiqh dan Ushul Fiqh. Selain itu beliau juga ahli dalam bidang Hadits. Beliau diundang sebagai pembicara pada acara pertemuan Majelis Masyayikh Mahad Aly yang diadakan oleh Kementrian Agama RI di Ma`had Aly Salafiyah Syafi`iyyah Sukorejo Situbondo. Acara tersebut banyak membahas tentang masa depan Ma`had Aly di Indonesia. Acara tersebut diikuti oleh utusan dari 13 Mahad Aly yang telah mendapatkan SK dari Kementrian Agama.

Pada selasa 30 November 2016 atas inisiatif katib Mahad Aly, KH. Muhyiddin Khotib, beliau juga mengisi kuliah umum kepada santri Mahad Aly Marhalah Ula dan Marhalah Tsaniyah. Beliau menuturkan bahwa antara tahun 1990-1997 tiap bulan mengisi mata kuliah Qowaid Fiqhiyyah di Mahad Aly Situbondo.

Beliau banyak menyinggung masalah geneologi pemikiran fuqoha`, sejarah perkembangan Fiqh, Ushul Fiqh dan Maqoshid. Berkenaan dengan Fiqh, menurut guru besar Fiqh Ushul Fiqh ini, fiqh berperan di dalam melatih otak untuk berfikir kritis dan cerdas dengan menggunakan metodologi. Masalah-masalah fiqh terus berkembang sedangkan teks Alquran maupun Hadits terbatas. Namun menurut beliau Alquran tetap bisa menjawab seluruh persoalan umat karena Alquran diturunkan untuk semua umat dan semua masa. Jika ada orang yang mengatakan kitab suci umat Islam ini tidak relevan, maka kemungkinan besar orang tersebut tidak dekat dengan Alquran dan tidak membacanya.

Mrnurut Prof. Agil, Fiqh tidak berdiri sendiri karena memerlukan Ushul Fiqh. Ushul Fiqhpun memerlukan Maqosid/maslahat. Orang yang Faqih tidak boleh gegabah dalam menetapkan illat hukum. Perlu keteletian dan keahlian. Beliau mencontohkan masalah Qishos ‘Apakah seorang merdeka harus diqisosh apabila membunuh budah?’. Hanafiyah berpendapat tidak perlu diqisosh karena tidak mumatsalah (tidak sepadan), sedangkan jumhur mengatakan harus diqishos karena lebih melihat dimensi kemanusiaannya/ hifdzun Nafs.

Beliau juga banyak menceritakan pengalaman belajarnya baik di Indonesia maupun ketika beliau di luar negeri. Beliau menyarankan agar belajar dari guru yang ikhlas agar ilmunya menempel dan perbanyaklah tahajjud agar hafalan kuat dan badan sehat.

Semoga beliau diberikan umur panjang agar kita semua dapat mengambil manfaat dari ilmu-ilmunya. (Zky/TA)