Percik-Percik Pemikiran KH. Afifuddin Muhajir

Rabu, 30 November 2016 23:54 WIB
3026x ditampilkan Berita Utama Dosen

Percik-Percik Pemikiran KH. Afifuddin Muhajir

Hubungan Fiqh dan Ushul Fiqh (II)

KH. Afifuddin Muhajir dalam pertemuan Majelis Masyayikh yang diselenggarakan di Mahad Aly PP. Salafiyah Syafi`iyyah Sukorejo Situbondo 29-30 November 2016 menyampaikan bahwa ada hubungan erat antara Fiqh dan Ushul Fiqh.

Menurut pengarang kitab Fathul Mujib al-Qorib ini, Fiqh adalah tsamrotul ‘Amal (hasil kerja), Ushul Fiqh adalah thoriqotul `Amala (metode kerja) sedangkan ijtihad adalah nafsul amal (pekerjaan itu sendiri).  Fiqh merupakan hasil ijtihad sedangkan Ushul Fiqh adalah metode ijtihadnya.

Beliau berharap agar para pelajar Mahad Aly, khususnya jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh menguasai Fiqh produk dan Fiqh proses, sehingga yang dikuasai bukan hanya pendapat-pendapatnya fuqoha` saja, namun juga mengetahui bagaimana ijtihadnya Imam Abu Hanifah, Imam Malik Imam Syafi`i, dan Imam Ahmad, bagaimana metodologi berfikirnya sehingga menghasilkan produk pemikiran berupa Fiqh. (Zaky/ Tanwirul Afkar)

 

Antara Penyaringan dan Penjaringan

Naib Mudir Mahad Aly Situbondo KH. Afifuddin Muhajir mengatakan bahwa salah satu kelebihan Mahad Aly PP. Salafiyah Syafi`iyyah Sukorejo Situbondo dibanding lembaga lainnya adalah pada pola rekrutmen mahasantrinya yang menggunakan pendekatan tidak melihat latar belakang tapi melihat potensi. Ketika ada yang ingin masuk Mahad Aly, maka yang ditanya adalah ‘apa yang kamu bisa?’ bukan ‘kamu lulusan apa?’

Bisa saja orang-orang yang telah menyelesaikan S1, S2 dan S3 tidak lulus jika tidak bisa mampu mengikuti tes seleksi masuk Mahad Aly dengan baik dan bisa saja yang tidak memiliki gelar akademik lulus dan diterima di Mahad Aly apabila memiliki kemampuan yang memadai dan mampu mengikuti ujian masuk dengan baik.

Menurut beliau pola rekrutmen seperti ini perlu diterapkan di seluruh Mahad Aly yang ada di Indonesia. Jadi polanya adalah penyaringan bukan penjaringan. Jika menggunakan metode penjaringan maka semua yang mendaftar bisa diterima meskipun tidak memenuhi syarat.

Misalnya di Mahad Aly ada 1000 pendaftar dan yang memenuhi syarat hanya 100, maka dengan menggunakan metode penyaringan yang harus diterima adalah 100 itu. Tapi jika metodenya adalah penjaringan, maka yang 1000 itu diterima semua. Seandainya metode penyaringan itu diterapkan diseluruh perguruan tinggi Islam di Indonesia, kemungkinan tidak perlu didirikan Mahad Aly dalam tanda petik, ungkapnya dihadapan peserta Majelis Masyayikh. (Zaky/ Tanwirul Afkar)

 

Antara Ulama dan Kiai

Menurut KH. Afifuddin Muhajir, jika lulusan santri Mahad Aly bisa menjadi generasi muslim yang mewarisi tradisi ilmiah, amaliah dan khuluqiyah Salafunas Sholeh, maka mereka tidak perlu dikwatirkan akan menjadi apa. Allah yang akan menjamin masa depan mereka.

Beliau juga menyampaikan perbedaan Ulama dan kiai. Ulama adalah orang yang memadukan antar keilmuan yang mendalam (fiqh) dan rasa takut kepada Allah (khosyah). Sedangkan kiai adalah setiap orang yang masyarakat mau memanggilnya kiai, ungkapnya dengan disambut tawa oleh peserta pertemua Majelis Masyayikh yang diadakan oleh Kemenag RI.

Jadi menurut pendapatnya, untuk disebut kiai tidak harus alim, yang penting ada masyarakat mau memanggilnya kiai, ya menjadi kiai. Kadang ada ulama yang tidak disebut kiai, ada juga kiai yang bukan ulama, dan ada juga ulama yang sekaligus kiai, seperti Alm KH. Sahal Mahfudz. (Zaky/ Tanwirul Afkar)