Resensi Adabud Dunya wad Din

Sabtu, 3 Desember 2016 06:43 WIB
968x ditampilkan Berita Utama Artikel Tanwirul Afkar

MENATA HIDUP SECARA PROPORSIONAL DAN PROFESIONAL

(SEJAHTERA DI DUNIA, BAHAGIA DI AKHIRAT)

 

Identitas Kitab

Nama Kitab  : Adab ad-Dunya wa ad-Din

Penulis           : Abu al-Hasan Ali Ibn Muhammad Ibn Habib al-Bashri al-Mawardi

Tebal              : 272 halaman

Penerbit        : Dar al-Fikr

Peresensi     : Miftahus Surur

 

“Sesuatu yang paling agung derajatnya dan paling besar nilai manfaatnya adalah menegakkan dan meluruskan kehidupan beragama dan kehidupan dunia, serta menyeimbangkan antara kebaikan akhirat dan kebaikan dunia. Karena dengan tegaknya agama, ibadah bisa dijalankan dengan baik. Dan dengan tercapainya kebaikan dunia, kebahagiaan akan terasa sempurna”.

Demikianlah kata Imam al-Mawardi dalam “pengantar penulis” kitab ini. Dari cuplikan kata-kata beliau tersebut, kita dapat memahami tujuan beliau dalam menulis kitab ini, yaitu mengajarkan pada kita tata cara yang baik dan benar dalam menjalani kehidupan beragama dan kehidupan dunia secara proporsional (seimbang antara kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan ukhrawi), tidak terlalu ketat (ekstrem) dan juga tidak terlalu longgar (liberal).

Menurut hemat kami, tujuan yang mulia ini sangat sesuai dengan firman Allah berikut ini,

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ  

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka. Mereka Itulah orang-orang yang memperoleh bagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (Al Baqarah 201-202)

Imam al-Mawardi menuturkan bahwa dalam penulisan kitab ini, beliau senantiasa berpedoman pada al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad Saw. Selain itu, untuk memberikan corak warna dan ragam tekstur dalam kitab ini, beliau menyertakan kata-kata mutiara para ahli hikmah, puisi para pujangga dan syair para sastrawan. Sehingga diharapkan para pembaca tidak cepat bosan dalam membaca dan mempelajari kitab ini.

Kitab yang menurut hemat kami sangat cocok bagi para santri dalam menghadapi era globalisasi ini tersusun atas lima bab.

Pertama, bab keutamaan akal dan tercelanya hawa nafsu. Dalam bab ini, mushannif mengingatkan pada kita betapa pentingnya akal dan betapa bahayanya hawa nafsu. Dengan akal, kita bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan, mana yang seharusnya dikerjakan dan mana yang seharusnya ditinggalkan, mana yang pantas untuk dilakukan dan mana yang tidak pantas untuk dilakukan. Sedangkan nafsu selalu menentang kebaikan dan melawan akal.

Melalui bab ini, mushannif mendorong kita untuk menjadi orang yang berakal. Beliau mengajak kita merenungi siapa sebenarnya diri kita? Apakah kita termasuk orang yang berakal? Apa bukti bahwa kita adalah orang yang berakal? Bagaimana cara mengukur bahwa seseorang itu adalah orang yang berakal?

Beliau menjawab semua persoalan tersebut dengan gaya bahasa yang unik dan menarik untuk disimak. Seperti sebuah perkataan ulama’ yang dikutip oleh beliau tentang siapakah orang yang berakal itu:

إذا عقلك عقلك فأنت عاقل

“Apabila akalmu bisa mengendalikan dirimu, maka engkau adalah orang yang berakal.”

Kedua, adab al-‘ilmi. Isi dalam bab ini lumayan mirip dengan kitab Ta’lim al Muta’allim, seperti keutamaan ilmu dan adab seorang santri. Namun uniknya, kitab ini selalu memotivasi kita untuk tetap semangat dan istiqomah dalam menuntut ilmu dengan bahasa yang amat persuasif disertai untaian kata-kata mutiara yang penuh dengan hikmah. Uniknya lagi, kitab ini menyingkap berbagai penyebab yang dapat menghalangi kita untuk memahami suatu pelajaran dengan benar, sekaligus memberikan teknik-teknik unik agar kita dapat memahami pelajaran dengan mudah dan tepat. Mushannif juga mengungkapkan secara gamblang faktor-faktor yang dapat membuat kita malas menuntut ilmu atau belajar, serta mengingatkan kita berbagai kesalahan yang sering kita lakukan dalam belajar. Tidak hanya itu, beliau juga mengemukakan 9 syarat agar kita menjadi santri yang sukses dalam belajar. Ingin tahu? Segera baca!

Ketiga, adab al-din. Pada permulaan bab ini, mushannif mengajak kita untuk merenungi hikmah dan tujuan di balik pensyariatan agama Islam. Mengapa kita harus salat, zakat, puasa dan haji? Mengapa salat didahulukan daripada zakat? Mengapa zakat didahulukan daripada haji? Menarik sekali penyajian beliau tentang ini semua. Nggak percaya? Silahkan baca!

Selanjutnya, beliau memaparkan bagaimana tata cara yang baik dan benar dalam menjalani kehidupan beragama dan menegakkan syariat Islam. Dalam hal ini, Mushannif membagi-bagi orang mukalaf ke dalam berbagai golongan dengan beragam aspek. Di antaranya, mushannif membagi orang mukalaf ke dalam empat golongan berdasarkan tingkatan ketaatannya, yaitu pertama, orang yang senang melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan (tingkatan yang paling sempurna dalam kehidupan beragama). Kedua, orang yang tidak mau taat dan cenderung bermaksiat. Ketiga, orang yang senang melakukan ketaatan tapi juga cenderung bermaksiat, dan keempat, orang yang tidak mau melakukan ketaatan, sekaligus menjauhi maksiat. Tidak hanya sekedar membagi-bagi, mushannif juga menawarkan siasat-siasat jitu agar kita senantiasa menjadi bagian dari golongan pertama, yaitu orang yang mampu menjalani kehidupan beragama dengan baik dan benar.

Keempat, adab al-dunya. Secara persuasif mushannif mengulas bagaimana cara yang baik dan benar dalam menata kehidupan dunia. Bab ini melatih kita agar kita bisa menata kehidupan dunia secara proporsional/seimbang, tak terlalu cinta dunia, dan juga tak meninggalkan dunia. Bahkan mushannif sangat memotivasi agar kita senantiasa berusaha untuk meraih kebahagiaan dan kesejahteraan dalam kehidupan dunia.

Imam al-Mawardi menuturkan bahwa untuk mewujudkan kehidupan dunia yang teratur dan tertata dengan baik, kita harus menerapkan 6 kaidah pokok, yaitu pertama, agama yang dianut (agama resmi negara). Kedua, pemimpin yang berdaulat. Ketiga, keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Keempat, keamanan dan ketentraman masyarakat. Kelima, negeri yang subur. Keenam, cita-cita yang luhur.

Kelima, adab al nafsi. Di sinilah kita mulai mempelajari bagaimana cara menanamkan akhlak pada diri kita sendiri dan bagi anak didik kita. Imam al-Mawardi mengulas berbagai macam teori bagaimana seseorang dapat memperoleh pendidikan akhlak. Salah satunya seperti kisah berikut ini: Suatu hari seseorang bertanya pada nabi Isa,”Siapa yang mengajarkanmu adab/akhlak?” Beliau menjawab,”Nggak ada. Tetapi aku melihat dan mengamati orang yang berperilaku bodoh (tidak beradab), lantas aku menjauhinya (tidak menirunya).”

Menurut hemat kami, bab ini sangat cocok untuk dijadikan materi pokok dalam kurikulum “pendidikan karakter” yang didengung-dengungkan oleh menteri pendidikan.

Bagian ini juga sangat penting bagi kita yang selalu cenderung mengikuti hawa nafsu dalam kemaksiatan. Karena dalam bab ini, mushannif mengajak kita untuk berlatih menyucikan jiwa dan bermujahadah (berjuang) dalam membentengi diri dari rayuan hawa nafsu.

Itulah kelima bab yang tertuang dalam kitab yang kami favoritkan ini. Namun, apa yang kami paparkan dalam lembaran ini, hanyalah bagian pucuk saja. Untuk mendalaminya sampai ke bagian akar, tentu pembaca yang budiman harus merujuk langsung ke kitab aslinya.

Kitab ini memiliki gaya penulisan yang unik dan struktur kebahasaan yang istimewa, tidak biasa dan tidak dimiliki kitab-kitab lainnya. Banyak ungkapan-ungkapan menarik yang akan anda jumpai dalam kitab ini, yang tidak anda jumpai di kitab lainnya. Kata-kata mutiara dan nasehat ulama yang sarat makna sebagai nutrisi akal dan hati juga banyak tersebar dalam kitab ini.

Akan tetapi, diperlukan ketelitian dan kecermatan ekstra untuk memahami kitab ini, serta ketekunan dan kesabaran dalam mengkajinya. Selamat membaca!