Wanita Dianjurkan Shalat Jum'at

Senin, 5 Desember 2016 10:54 WIB
642x ditampilkan Berita Utama Tanwirul Afkar Wanita Shalat Jumat Shalat Jumat Shalat Jumat Di Jalanan

Wanita Dianjurkan Shalat Jum'at

Wanita, selalu menjadi topik perbincangan yang menarik untuk didiskusikan. Dari ujung rambut sampai ujung kakinya bak lautan tema yang tak pernah tuntas dibahas dan ditulis. Bukan hanya pesona, kerling mata dan simpul senyumnya yang menggoda untuk diobrolin. Tapi juga sikap agama yang sedikit meng-anak emas-kan dalam beberapa lembaran kitab ajarannya. Betulkah wanita memiliki keistimewaan tertentu dalam ritual keagamaan ?.

Bila ada orang sempat ‘ngomong’, “aku tak suka wanita“, dia patut dimasukkan dalam daftar orang-orang goblok. Tak sedikit yang beranggapan bahwa “wanita” biang malapetaka. Bius pesonanya seringkali membuat laki-laki tak berdaya. Siapa yang tak terlena bila senyum selalu mengembang dibibir manisnya? Amboy.. betapa menakjubkan. Seakan setiap gerak gemulainya adalah tarian kenikmatan. Lantun suaranya pun bisa membuat siapa saja yang mendengar terpaksa berdecak kagum. Ia selalu dipuja dan dimanja. Tidak terlalu berlebihan kalau kemudian kaum adam mengidolakan dan mengidamkan keindahan maha dahsyat itu.

Dalam kerangka inilah, hukum Islam yang berkenaan dengan kewanitaan diformulasikan dengan begitu ketatnya. Sepintas, barangkali akan kita temukan hukum-hukum tersebut seringkali mengkungkung kemerdekaan seorang wanita. Bisa dilihat konsep ihdad, ‘iddah, pembagian warisan, thalak, persaksian dan lain-lain. Sampai pada ranah ubudiyah-pun ruang lingkup yang dimiliki wanita masih lebih sempit dari pada kaum laki-laki. Wanita hanya menghabiskan masa hidupnya di KDS (Kasur, Dapur, dan Sumur). Sulit sekali kita jumpai kiprah seorang wanita di luar rumah yang memperoleh justifikasi hukum.

Shalat jum’at misalnya, jarang sekali wanita meramaikannya. Masjid-masjid —dimana saja— selalu dipadati oleh kaum laki-laki. Image (anggapan) yang sedang berkembang dalam masyarakat kita adalah sholat jum’at tidak wajib bagi kaum wanita. Shalat jum’at hanya miliknya kaum pria. Tentu hal ini menggelitik kita untuk bertanya; mengapa hal itu bisa terjadi? Betulkah kaum Hawa tidak diwajibkan? Kalau memang betul, kenapa? Bukankah sholat jum’at merupakan wahana untuk menampakkan persatuan Islam, syiar agama? Mengapa mereka tidak diikutsertakan? Atau jangan-jangan mereka punya kewajiban yang sama dengan kaum laki-laki untuk ber-jum’at?

Pertama kali mari kita lihat firman Allah dalam surat al-Jumu’ah ayat 9:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman apabila (kamu) telah dipanggil untuk menunaikan sholat di Hari Jum’at maka segeralah mengingat Allah dan tinggalkan aktifitas jual-beli. Hal itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya”.

Ayat ini secara gamblang menjelaskan bahwa setiap orang yang beriman —tanpa melihat jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan— wajib menunaikan sholat jum’at. Karena yang menjadi mukhathab (audiens/obyek hukum) adalah menggunakan lafadz ‘am, yaitu orang-orang yang beriman. Namun ternyata keumuman ayat ini segera dibatasi (di-takhshish) oleh sabda Nabi Muhammad saw.

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ

“Sholat jum’at merupakan suatu kewajiban bagi setiap orang Islam dalam satu jamaah kecuali budak, wanita, bocah dan orang yang sedang sakit”.

Seorang budak sahaya dan bocah tidak wajib menunaikan sholat jum’at karena keduanya dipandang tidak cakap (tidak layak) untuk melaksanakan kewajiban itu. Sebab budak masih terikat kontrak dengan majikan. Sementara bocah, di samping belum baligh, sangat tergantung pada orang tua (wali). Begitupun orang sakit. Dia mendapat keringanan untuk tidak sholat jum’at karena penyakitnya. Wanita juga termasuk pada daftar orang-orang yang tidak wajib melaksanakan shalat jum’at.

Berpijak pada Hadits di atas maka mayoritas Ulama’ madzhab seperti madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah sepakat untuk meletakkan kriteria ‘wajibnya Shalat Jum’at’ ialah harus laki-laki. Bagi seorang wanita sama sekali tidak memiliki kewajiban untuk turut menunaikan ibadah yang menjadi program mingguan agama ini. Alasan yang mereka ajukan adalah karena ia harus melayani kebutuhan suami di rumah. Disamping juga karena keberadaan wanita di luar rumah sangat berpeluang untuk menaburkan benih fitnah pada laki-laki. Dalam hal ini Nabi pernah bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

”Tak pernah kutinggalkan suatu fitnah setelahku yang paling bahaya bagi kaum laki-laki, kecuali kaum perempuan”. (Fath al-Bary, IX, 137).

Maka, dengan sedikit berani, Imam Syafi’i mengatakan bahwa wanita yang sudah “tua renta” disunnahkan menghadiri sholat jum’at dengan catatan mendapat idzin dari orang tua atau suami. Pertimbangan beliau adalah karena keberadaannya tidak menggugah —kalau tidak ingin dikatakan tidak mungkin lagi— untuk memikat hasrat laki-laki sehingga fitnah lebih terjamin. Bagi wanita yang kebetulan berparas ayu —dan otomatis akan banyak menarik mata yang melirik— atau wanita yang tidak cantik namun suka merias diri dengan dandanan menggiurkan, maka hukumnya “makruh” menghadiri shalat jum’at dengan catatan juga harus mendapat idzin dari orang tua atau suaminya. Kenapa? Wanita muda; cantik atau tidak cantik sangat potensial menggelitik hasrat nafsu seorang pria. Ibarat buah yang sedang ranum tetap menggoda untuk dinikmati.

Berbeda dengan madzhab Imam Hanafi. Secara umum, belia maupun sudah renta tetap dipandang tidak wajib menghadiri sholat jum’at. Karena shalat jum’at itu harus dilakukan secara berjamaah. Sedangkan jamaah tidak disyari’atkan kepada kaum perempuan. Menurut Madzhab Imam Malik, wanita yang masih muda belia “haram” menghadiri sholat jum’at. Hal ini demi menjaga merebaknya fitnah yang bakal timbul dari perempuan. Sejak awal wanita telah dipersepsikan sebagai makhluk luar biasa daya pikatnya, sehingga bisa menjadi penggoda iman seorang laki-laki. Lain halnya dengan para wanita yang sudah lanjut usia yang sedikit mengundang gairah pria. Menurut mereka, wanita seperti ini “boleh” menghadiri shalat jum’at ‘bareng’ dengan kaum pria. Madzhab Imam Hanbali mengatakan bahwa wanita yang berwajah cantik (tua-muda) “makruh” menghadiri shalat jum’at. Sebaliknya bila tidak cantik maka “boleh” menghadiri sholat jum’at. (Kitâb al-Fiqh ‘Alâ al- Madzâhib al-Arba’ah, I, 325-330; Subul al-Salam,II,100).

Dari semua ragam pendapat ulama’ di atas, punya konsekwensi yang sama. Yaitu wanita yang menunaikan shalat jum’at, baik menurut ulama’ yang membolehkan atau mensunnahkan, maka baginya sudah gugur kewajiban shalat dhuhurnya. Artinya, sholat jum’at yang ia laksanakan menjadi pengganti sholat dhuhur.

Membaca beberapa pendapat para Imam ini, dengan berdasarkan Hadits Nabi, maka dapat disimpulkan bahwa telah terjadi ijma’ (kesepakatan tunggal) para Imam mujtahid tentang tidak wajibnya sholat jum’at bagi kaum wanita. Sholat jum’at memang hanya disyari’atkan kepada kaum laki-laki bukan untuk perempuan. Sehingga “mewajibkan” sholat jum’at kepada kaum wanita tergolong membikin syariat baru yang tidak mendapat justifikasi dari Rasul. Dan hal itu termasuk bid’ah yang menyesatkan !. (Fatawa Muhammad syaltut, 93)

Benarkah seperti itu?

Sholat jum’at selain sebagai media komunikasi rohaniyah manusia dengan Tuhannya, hakikatnya, ia juga sebagai hari perayaan untuk mengungkap segala seruan puji syukur kepada Tuhan atas semua karunia yang berlimpah-ruah. Selama enam hari manusia telah begitu disibukkan dengan persoalan dunia. Tak banyak waktu yang diluangkan untuk sekedar mengingat Tuhan. Tuhan sering kali dilupakan. Maka di hari ini, Jum’at, Tuhan mewajibkan kepada seluruh umat Islam untuk bersama mendengungkan kalimat syukur dan tahmid, melupakan sejenak ajakan ambisi duniawi. Di hari ini juga manusia bisa mendapatkan ‘ibroh atau pelajaran berharga bagaimana sesungguhnya makna dari persatuan.

Bukan saja Islam yang memiliki hari agung ini. Agama Yahudi pun memiliki hari yang bermuatan keagungan yaitu hari Sabtu. Agama Nasrani juga memiliki hari yang sama yaitu hari Ahad. Nabi bersabda bahwa hari-hari ini bagi mereka adalah hari untuk menuai petunjuk Tuhan. Hari untuk memupuk rasa solidaritas dan menyuburkan ikatan kebersamaan. Begitulah hikmah dibalik sholat jum’at. Pada zaman Rasul kaum wanita cukup antusias (penuh semangat) juga ikut melaksanakan sholat jum’at. (al-Tafsir al-Kabir, XXX, 8-10; Fiqh al-Sunnah, I, 256)

Berangkat dari hikmah dan sejarah ini, sangat tidak bijak bila kaum wanita tidak diberi kesempatan turut larut dalam hajatan rabbaniyah-insaniyyah ini. Soal beberapa Hadits Nabi yang diindikasikan melarang wanita menghadiri sholat jum’at itu perlu ditinjau ulang. Bahwa munculnya statemen Nabi (hadits) seperti itu terhadap wanita semata-mata terkait dengan iklim sosial dan budaya yang melatarbelakanginya. Kita tahu bahwa budaya Arab sangat ketat mengikat kiprah perempuan di luar rumah. Budaya ini terus membekas hingga masa para imam fikih seperti Abu Hanifah hingga Imam Syafi’i. Tak heran kalau pendapat beliau-beliau selalu bertumpu pada kekhawatiran-kekhawatiran dan tak berani menyimpang dari Hadits yang ada. Seperti Abu Hanifah yang berfatwa bahwa sholat jum’at tidak disyariatkan pada kaum wanita. Kalau kita kontekskan pada realitas kita sekarang ini, dimana ruang gerak kaum wanita telah cukup luas, maka Hadits Nabi tersebut menjadi tidak relevan lagi. Artinya, alasan karena wanita, bila keluar rumah, dapat menimbulkan fitnah itu dipengaruhi oleh konstruks (bangunan) budaya dan sistem sosial yang berkembang pada waktu itu.

Pertanyaannya, mengapa harus dibeda-bedakan antara laki-laki dan wanita. Padahal sholat jum’at merupakan ritual peribadatan suci. Seharusnya, sebagai ibadah —apalagi sedikit bernuansa sosial— wanita diikutsertakan dalam merayakannya. Dengan sangat cerdik Syekh Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi menyajikan alasan kenapa ulama dulu ‘tidak begitu suka’ terhadap wanita yang melaksanakan shalat jum’at. Hal itu disebabkan pada waktu itu tidak ada tabir yang memisahkan antara laki-laki dan wanita, sehingga sangat membuat laki-laki tidak khusyu’. Berbeda halnya dengan saat ini, dimana sudah banyak masjid yang menyediakan tempat khusus bagi kaum wanita. So, tidak ada alasan untuk melarang wanita melaksanakan shalat jum’at. (Miah Sual wa jawab fi al-Fiqh al-Islami, 140)

Walhasil, ayat Alqur’an tetap diamalkan apa adanya. Yakni, semua orang Islam wajib untuk melaksanakan sholat jum’at. Kalau memang tidak mungkin bergabung dengan kaum laki-laki –karena rentan dengan fitnah--, silahkan mendirikan sholat jum’at sendiri. Bukankah sholat jumat adalah merupakan wahana untuk mengungkap segala syukur dan menampakkan syiar agama?! Falyataammal!