Mencintai Tanah Air Seperti Nabi

Jumat, 9 Desember 2016 11:20 WIB
663x ditampilkan Berita Utama Artikel Kamaly Mahasantri Tanwirul Afkar Maulid Nabi Muhammad Rasulullah Tanah Air Makkah

Bulan Rabi’ul Awal menjadi momentum bagi masyarakat untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beragam cara dilakukan oleh masyarakat untuk mengingat kembali perjalanan pengemban tugas risalah terakhir itu. Di pesantren Sukorejo dan juga pesantren-pesantren yang lain, peringatan maulid Nabi biasanya disambut dengan berbagai perlombaan yang mengasah bakat santri, di antaranya lomba baca al-Qur’an, baca kitab kuning, hafalan nazham-nazham, cerdas cermat, serta keterampilan-keterampilan yang lain. Mulai hari pertama bulan Rabi’ul Awal hingga tanggal 12, setiap pagi para santri melantunkan shalawat bersama-sama sebelum memulai pelajaran. Setiap tahun, kegiatan-kegiatan tersebut rutin dilaksanakan.

Rutinitas adalah hal yang mesti diwaspadai karena jika ia telah me-ninabobo-kan, niscaya substansi dari hal yang rutin dilakukan itu bisa terlupakan. Begitu pula dengan rutinitas merayakan peringatan Maulid Nabi. Perayaan ini akan kehilangan substansi dan manfaatnya bilamana ia hadir untuk memenuhi tuntutan rutinitas semata. Momentum Rabi’ul Awal kiranya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk membaca (kembali) perjalanan hidup Rasulullah yang sarat akan teladan.

Keteladanan Rasulullah adalah samudera tak berpantai. Meneguk hanya setetes dari samudera uswahnya merupakan nikmat tanpa hingga. Tentu, bukan perkara mudah mengikuti seluruh teladan Nabi. Untungnya, Ia memerintahkan kita untuk melaksanakan perintah dan teladannya semaksimal kemampuan yang kita miliki. ‘Wa idza amartukum bi amr fa’tu minhu ma istatha’tum’. Bahkan dalam kemampuan paling maksimal, sulit rasanya seseorang meneladani Nabi secara utuh. Namun, setidaknya dalam diri kita terdapat sebagian dari kepingan-kepingan mozaik teladan Muhammad yang dapat memantulkan cahaya manfaat dalam kehidupan.

Setiap orang boleh jadi berbeda-beda mengambil ‘kepingan’ teladan Rasulullah. Ada sebagian kaum muslim yang meneladani cinta kasih Nabi kepada kaum lemah serta ketegasannya melawan segala bentuk penindasan. Ada pula yang meniru kebijaksanaannya sebagai pemimpin. Sebagian lain berupaya mencontoh dirinya sebagai orang tua. Ada juga yang berupaya meniru konsistensi ibadahnya. Semuanya berpadu membentuk ‘ummat Muhammad’. Ummat Muhammad adalah ‘Nabi Muhammad kolektif (Muhammad jama’iyy)’ yang masing-masing individu di dalamnya memiliki kepingan-kepingan cahaya keteladanan Rasulullah dan merefleksikan akhlaknya secara utuh.

Di tengah derasnya gelombang ancaman disintegrasi bangsa, barangkali kepingan teladan Rasulullah sebagai seorang yang mencintai tanah airnya mendapatkan momentum untuk diangkat ke permukaan. Rasulullah mencintai Makkah, tempat beliau lahir dan tumbuh seolah tak rela saat harus ‘terusir’ darinya. Suatu saat beliau pernah bersabda,[1]

مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ

“Alangkah indahnya engkau duhai Makkah di antara negeri yang ada. Engkau adalah negeri yang paling aku cintai. Kalau bukan lantaran kaumku mengusirku darimu, aku tidak akan tinggal di negeri selainmu.”

Saat Rasulullah harus hijrah ke Madinah, kecintaannya terhadap Makkah tak pernah lekang. Rasulullah berharap agar ia dapat mencintai Madinah sebagaimana beliau mencintai Makkah.

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا المَدِينَةَ كَمَا حَبَّبْتَ إِلَيْنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

“Ya Allah, tumbuhkanlah kecintaan kami kepada Madinah seperti cinta kami kepada Makkah atau lebih besar dari itu.”[2]

Kecintaan Rasulullah terhadap tanah air itu ditampilkan dengan upayanya menjaga keutuhan persatuan masyarakat. Tatkala berada di Madinah, Rasulullah melakukan tiga hal penting yang muaranya adalah terbentuknya masyarakat yang bersatu, yaitu membangun masjid sebagai simbol persatuan, mempererat tali persaudaraan kaum muslimin terutama antara kaum Muhajirin dan Anshar, dan mencetuskan piagam Madinah sebagai perjanjian di antara masyarakat untuk bersatu menunaikan kewajiban dan memenuhi hak-hak di tengah keragaman suku dan agama yang mereka miliki. Perbedaan-perbedaan yang mengemuka di antara ummatnya dimanage sedemikian rupa sehingga perbedaan tersebut menjadi rahmat, bukan kiamat.

Ada ungkapan yang disinyalir sebagai hadits Nabi menyatakan bahwa cinta tanah air adalah sebagian dari iman (hubb al-wathan min al-iman). Ungkapan tersebut tidaklah berlebihan. Sebab, mencintai tanah air pada esesensinya adalah menjaga keutuhan persatuan masyarakat. Menjaga persatuan masyarakat dan tidak bercerai berai berarti melaksanakan perintah Allah (lihat Qs. Ali Imran [3]: 103) dan meneladani sunnah Rasul-Nya.

Cinta tanah air merupakan teladan Rasulullah yang patut dicontoh oleh segenap ummatnya dan dibuktikan dengan mengokohkan atau menjaga keutuhan masyarakat. Jika tidak bisa melakukan itu, sekurang-kurangnya seseorang tidak melakukan sesuatu yang mengakibatkan disintegrasi serta kekacauan di tengah masyarakat. (Muhammad Rizqil Azizi)

 

[1] Hadits selengkapnya (Muhammad bin Isa bin Saurah bin Dlahhak at-Turmudzi, al-Jami’ al-Kabir Sunan at-Turmudzi, j. 6, h. 208, Beirut: Dar al-Gharb al-Islamy, 1998):

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى البَصْرِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا الفُضَيْلُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ، وَأَبُو الطُّفَيْلِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَّةَ: مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ، وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلاَ أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ.

[2] Hadits selengkapnya (Muhammad bin Isma’il Abu Abdillah al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, j. 8, h. 80, Dar Thauq an-Najah, 1422 H):

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا المَدِينَةَ كَمَا حَبَّبْتَ إِلَيْنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ، وَانْقُلْ حُمَّاهَا إِلَى الجُحْفَةِ، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا وَصَاعِنَا