Islam dan ‘Polusi Suara’

Selasa, 13 Desember 2016 05:26 WIB
362x ditampilkan Berita Utama Mahasantri Tanwirul Afkar Polusi Suara Spiker Azan Menggunakan Pengeras Suara

Islam dan ‘Polusi Suara’

Beragam cara dipraktikkan oleh pemeluk agama untuk mengekspresikan keberagamaan mereka. Mulai dari ritus-ritus yang hanya bersifat privat hingga melibatkan ranah publik. Bermacam-bermacam praktik keberagamaan tidak pernah lepas dan muncul dalam ruang yang hampa. Artinya, konteks sosio-historis dan kultur memiliki pengaruh yang signifikan dalam ekspresi kebereagamaan mereka. Yang muara akhirnya, semua itu dilakukan untuk meningkatkan kualitas mereka dalam menggenggam status sebagai insan, yaitu menjadi insan yang senantiasa mengabdikan dirinya untuk Penciptanya.

Semangat yang menggelora dalam membumikan nilai-nilai spiritual dalam jiwa tidak lantas hanya disadur dari refrensi otoritatif (Alquran dan Hadis), akan tetapi, mereka melakukan kulturisasi dalam ritus keberagamaan mereka sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Agar Islam tidak dianggap GAPTEK atau kolot dalam mengikuti perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).

Seperti halnya azan, dalam kurun waktu yang cukup lama, seruan muazin masih bersifat klasikal dengan mengandalkan mereka yang bersuara lantang nan merdu dan dikumandangkan di menara-menara masjid atau di tempat tinggi ketika itu. Dengan ditemukannya TOA dan selanjutnya speaker yang memiliki jarak jangkau cukup jauh, memudahkan mereka untuk melakukan panggilan azan sebagai pertanda telah masuk waktu salat. Lantaran lantangnya bunyi speaker yang dapat menembus sampai ke pelosok desa, maka dirasa tidak cukup dimanfaatkan untuk azan saja, dipergunakanlah untuk menyetel salawat, lantunan ayat suci Alquran dan khutbah atau tabligh pun diperdengarkan.

Namun, semangat yang begitu menggelora ini ternyata menimbulkan polemik karena suara yang keluar dari speaker tak jarang mengganggu kenyamanan umat agama lain dan bahkan umat Islam sendiri. Mulai dari volume speaker yang terlalu keras atau suara dari speaker masjid yang dianggap polusi akibat muncul saat waktu dan kondisi yang tidak tepat. Inilah yang kemudian memantik munculnya statement ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla, bahwa penggunaan speaker masjid untuk kepentingan selain azan menimbulkan ‘polusi suara’, dan pada akhirnya polemik corong masjid menjadi topik hangat dan diperdebatkan.

Awalnya, keluhan ini menjadi hal yang biasa karena muncul dari kalangan minoritas saja. Namun akhirnya, terlepas dari penilaian subjektif setiap orang terhadap suara yang muncul dari corong masjid, persoalan ini lambat laun menjadi semakin kompleks dan viral di dunia Internasional ketika ‘polusi suara’ ini dirasakan mengganggu kenyamanan umat agama lain. Dan tak ayal memantik api kerusuhan di tengan masyarakat. Sebut saja kasus pembakaran vihara yang terjadi di Tanjung Balai, Medan. Dan lagi-lagi ini menjadi potret buram dan secara tidak langsung mengikis visi misi kehidupan Indonesia yang toleran dan damai.

Bagi umat Islam pada umumnya, mengumandangkan azan bukan hanya sebagai rutinitas akan tetapi bisa disebut juga sebagai ritual keagamaan. Azan tidak hanya sebagai seruan dan himbauan bahwa waktu salat telah tiba, namun azan menjadi anugerah tersendiri karena muazin dan yang mendengarkan azan juga mendapat limpahan pahala dari Allah Swt. Di samping azan juga merupakan bentuk syiar agama Islam yang berbeda dengan agama lain dari aspek menyeru waktu melaksanakan ibadah tertentu.

Secara etimologi, azan adalah i’lam (mengumumkan) sebagaimana tercantum dalam surat at-Taubah: 3 dan Yusuf: 70. Ini berarti azan memiliki misi untuk syiar agama. Tidak hanya sebagai syiar, azan juga disyariatkan– sebagaimana yang dikatakan oleh Ibn al-Mulaqqin – untuk menginformasikan waktu salat, tempat salat dan seruan untuk mengajak jamaah. Karena fungsi azan lebih dirasakan sebagai i’lam (pemberitahuan), maka perkembangan teknologi benar-benar dirasakan manfaatnya. Karena begitulah hakikat teknologi memudahkan segala hal yang sulit. Sehingga menggunakan pengeras suara dihukumi sunnah, karena azan juga hukumnya sunnah. Sebagaimana dalam kaidah,

للوسائل حكم المقاصد

“Hukum perantara tergantung hukum tujuannya.”

Dibalik manfaat besar dari penggunaan speaker masjid, ternyata tidak sedikit justru memanfaatkan speaker masjid dengan tidak bijak. Polusi suara yang muncul pasti membuat ketenangan terusik. Maka dari itu, sangatlah wajar jika Bimbingan Masyarakat (BIMAS) Islam Kementrian Agama mengeluarkan regulasi pengelolaan speaker masjid, agar supaya suaru yang muncul dari speaker bisa tidak malah membuat masyarakat resah karena mendengarnya.

  1. Speaker dikelola oleh orang yang ahli.
  2. Yang menggunakan speaker (muazzin, qari’, khatib, muballigh dll) hendaknya bersuara merdu, fasih, tidak cempreng, sumbang dan terlalu kecil.
  3. Tidak boleh terlalu meninggikan suara (kecuali untuk azan) dan yang mendengarkan dalam kondisi siap (lihat sikon, kecuali azan). Karena jika tidak seperti itu bukannya memunculkan simpati tapi malah antipati.

 

Lantas bagaimana hukum menggunakan speaker masjid untuk kepentingan selain azan, semisal membaca Alquran? Dalam hal ini, membaca Alquran memang dianjurkan dengan suara nyaring. Karena di samping ada anjuran untuk memperdengarkan bacaan Alquran kepada orang lain,yang mendengar pun dianjurkan untuk diam.

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. [QS. Al-A’raf: 204]

Namun dengan catatan jangan sampai bacaan Alquran tersebut menganggu orang yang sedang salat, tidur dan semacamnya. Diceritakan dalam suatu riwayat – sebagaimana dikutip oleh Imam Malik dalam al-Muwaththa’ - Nabi Muhammad pernah keluar menemui para sahabat dan menemui mereka dalam keadaan salat sementara suara bacaan mereka lantang. Lalu Nabi bersabda:

إن المصلي يناجي ربه فلينظر بما يناجيه به ولا يجهر بعضهم على بعض في القرآن

“Sesungguhnya orang yang salat sedang bermunajat kepada Tuhannya. Maka lihatlah, dengan apa dia (musholli) menyeru. Dan janganlah sebagian dari kalian menyaringkan bacaan Alquran atas yang lain.”

Jadi ini bukan hanya persoalan bagaimana seseorang mendapat pahala lantaran semisal membaca Alquran, akan tetapi bagaimana juga kita memperhatikan etika hidup bersama orang lain, baik seagama maupun beda agama. Jangan sampai mereka merasa risih terhadap suara-suara yang menurut umat Islam dinilai baik (seperti mengaji, dan sebagainya). Karena segala hal yang baik tidak baik jika dilakukan dengan cara yang kurang baik dan layak. Dan regulasi dari BIMAS Islam terkait aturan penggunaan speaker masjid sangat relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang plural.

Pada hakikatnya, setiap agama memiliki corak dan gaya yang beragam dalam mengekspresikan keberagamaan mereka, termasuk dalam persoalan penggunaan pengeras suara yang tidak jarang juga, hiruk pikuknya didengar oleh umat agama lain. Sehingga dengan beragam dan perbedaan yang terjadi di tengah masyarakat, sudah seharusnya menjaga stabilitas kehidupan yang peduli kepada ketentraman publik dengan mengesampingkan kepentingan yang bersifat privasi. Dalam kondisi seperti ini, maka saat menggunakan speaker perlu adanya pembacaan terhadap situasi dan kondisi serta memperhatikan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Hal yang kerap terjadi, umat agama tertentu kalap melakukan sesuatu saat menjadi mayoritas, padahal di tempat lain ada saudara mereka se-agama menjadi minoritas yang memiliki ruang gerak publik terbatas. Di kala muslim menjadi mayoritas, lebih-lebih di lingkungan seperti pesantren, maka penyetelan kaset pengajian dan sebagainya dengan menggunakan speaker bukanlah hal yang tabu. Malah sudah mulai masuk ke ranah tradisi setempat. Sementara saat menjadi komunitas minoritas, maka azan saja sudah cukup memberikan gambaran syiar Islam. Karena ini berkaitan dengan mereka yang non-muslim dan notabene mayoritas. Jika tidak demikian, maka eksistensi mereka bisa terancam karena barangkali non-muslim mayoritas antipati dan sulit menerima ‘kebisingan’ yang muncul dari speaker masjid, misalnya.