Lalu Zohri, Bendera Merah Putih dan Runtuhnya Otoritas

Ahad, 15 Juli 2018 09:00 WIB
1249x ditampilkan Berita Utama Artikel Dosen Umum

Beberapa hari yang lalu saya membaca salah satu status di media sosial bahwa Lalu Zohri Juara Dunia yang meraih medali emas dalam lomba lari 100 M U-20 di Tampere Finlandia tidak membawa bendera Merah Putih. Walaupun pernyataan ini menggelikan, ada saja yang me-repost atau share berita ini tanpa klarifikasi terlebih dahulu dari si pemilik akun. Sungguh fenomena yang aneh.

Jauh hari sebelumnya aya mendapatkan kiriman gambar screen-shot di salah satu media sosial. Di gambar itu ada tulisan mengenai wafatnya Seorang ulama Mufassir yang kitabnya pernah saya pelajari. Beliau adalah ulama asal Syiria, Syaikh Muhammad Ali al-Shobuni, penulis kitab Shafwatut Tafasir.

Gambar screen-shot itu tidak hanya saya temukan di satu grup media sosial saja, tetapi di hampir setiap grup gambar itu tersebar. Satu persatu anggota grup mulai mengucapkan belasungkawanya,  inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. saya masih bertahan untuk tidak komentar karen takut berita itu tidak benar, beruntung ada salah satu anggota mempertanyakan validitas berita tersebut dan kredibilitas sumbernya.

Alhasil, berita itu hoax. Tidak hanya berita itu, banyak berita serupa dijumpai, ada banyak berita hoax bergentayangan di dunia maya. Berita-berita hoax tersebut menjadi Konsumsi publik. Untung tidak ada adagium tiada hari tanpa hoax. Maraknya hoax ini mengindikasikan adanya pabrik khusus yang memproduksi hoax di negeri ini. Isu demi isu diproduksi untuk kepentingan tertentu. Sayangnya, hoax laku keras di tengah-tengah masyarakat yang mulai melek digital.

Agar tidak terjebak dalam hoax yang bertubi-tubi, lihatlah sumbernya. Di antara sumber pengetahuan adalah otoritas. Otoritas adalah orang, kelompok orang, lembaga yang dipercaya sebagai sumber pengetahuan. Saat berobat maka percaya kepada ahli pengobatan, dokter. Dalam bergama percaya kepada ahli agama. Untuk persoalan cuaca percaya kepada BMKG.

Mengikuti otoritas itu wajar, karena manusia memiliki keterbatasan. Secerdas-cerdasnya orang pasti dalam beberapa hal mengikuti otoritas. Coba bayang andaikan tidak boleh percaya kepada otoritas, untuk mengetahui bumi itu bulat anda perlu ke luar angkasa sendiri. Susahkan?

Otritas juga bisa dijadikan ukuran kebenaran saat ada jarak antar subjek dan objek pengetahuan. Saat terjadi kesimpang siuran kebenaran, maka penjelasan yang diikuti haruslah otoritas yang otoritatif, sumber yang memang memiliki kelaikan sebagai sumber. Sumber yang terpercaya sebagai sumber.

Otoritas yang otoritatif bisa dijadikan pedoman saat informasi berseliweran, maka tinggal melihat apakah sumbernya otoritatif atau tidak. Saat terjadi kegaduhan apakah ekonomi Indonesia membaik apa tidak bisa dilihat sumbernya, apakah politisi ataukah ekonom. Penjelasan tentang ekonomi oleh ekonom adalah lebih legitimate sebagai kebenaran. Berbeda saat sumbernya sama-sama otoritatif maka kepekaan dan rasionalitas anda diuji saat itu pula.

Melihat banyaknya pegiat media sosial yang mengkonsumsi hoax, bahkan termakan hoax, itu indikasi runtuhnya otoritas yang otoritatif. Mereka sudah tidak mampu memfilter dan memilah milih mana otoritas yang otoritatif dan mana otoritas non otoritatif. Sehingga tidak bisa membedakan mana fakta mana propaganda, menempuh instan. Ya, jalur instan adalah salah satu ciri manusia modern.

Fenomena seperti ini menghasilkan otoritas-otoritas baru, dalam bahasa sehari-sehari, memunculkan ahli-ahli baru. Ada yang mendadak menjadi pengamat politik, pengamat ekonomi, pengamat akidah. Persoalan keimanan percaya kepada Fadlizon, persoalan politik percaya kepada Via Vallen, persoalan Freeport percaya ke Grup sebelah, dll.

++++++++++++++++++++++++++++++++

M. Khalil Abd. Jalil (Dosen Ma'had Aly Salafiyah Syafi'iyah & Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo)