Paham Salah Menolak Islam Nusantara

Senin, 23 Juli 2018 10:53 WIB
1058x ditampilkan Berita Utama Dosen Berita Artikel Alumni Mahad Aly Umum

Islam Nusantara masih menjadi topik hangat dibicarakan baik di media sosial ataupun di dunia nyata, sayapun kadang terlibat dalam berdiskusi dengan beberapa pegiat media sosial tentang ini. Saat berselancar di internat, saya menemukan dialog-dialog argumentatif hingga cibiran dan Hujatan primitif sehingga arahnya lebih banyak bersifat destruktif.

 

Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas hakikat atau substansi Islam Nusantara. Karena ماهية Islam Nusantara banyak dijelaskan baik melalui tulisan berupa status di media sosial, artikel, buku ataupun lisan oleh tokoh-tokoh otoritatif NU baik Struktural maupun Kultural, sebut saja KH Ma'ruf Amien, Rois 'Aam PBNU atau KH Afifuddin Muhajir  wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo, dll.

 

Saya lebih menekankan pada aspek bagaimana Narasi Islam Nusantara ini ditolak oleh para pegiat media sosial. Penolakan terhadap Islam Nusantara di Media sosial bisa diklasifikasi ke dalam dua kategori.

 

Pertama, لذاته ini adalah wilayah substansi Islam Nusantara, hakikat dari Islam Nusantara. Kalau dalam pepatah arab adalah ما قال ditarik dari انظر ما قال  lihat apa yang dikatakan, renungkan apa yang diucapkan. Konsekwenainya, jangan menghukumi sebelum paham maksudnya. Setelah paham isinya baru memberikan komentar, setuju atau tidak setuju.

 

Al-Ghazali sebelum berkomentar tentang filsafat beliau mengkaji dulu apa itu filafat. Al-Ghazali bahkan mempelajari filsafat selama dua tahun sebelum mengkritisi. Bahkan sebelum menghukumi filsafat, al-Ghazali menulis beberapa kitab tentang filsafat, lihat saja مقاصد الفلاسفة،  ميزان العمل Al-Ghazali juga menulis kritiknya terhadap filsafat dalam sebuah kitab berjudul تهافة الفلاسفة

 

Dalam menolak Islam Nusantara ini, kebanyakan netizen bukan berangkat dari Pemahamannya, tetapi berangkat dari ketidak pahamannya. Para netizen ini hanya mengikuti trend dalam menolak karena ketidak fahaman atas substansinya. Buktinya apa? Mereka tidak bisa membedakan antara العادة و العقيدة،  الاصول و الفروع، الثوابت و المتغيرات mereka justru lebih banyak menyerang penggunaan istilah Islam Nusantara daripada Substansinya.

 

Kasus menarik yang saya alami adalah saat berdiskusi dengan beberapa pegiat media sosial yang menolak Islam Nusantara. Dia menolak secara apriori dengan pra-pemahaman yang dia bawa, bukan berdasar pemahaman setelah mengkajinya, padahal dalam kehidupan sehari-sehari dia mengamalkan amaliyah Islam Nusantara.

 

Kedua, لغيره mereka menegasikan Islam Nusantara bukan karena Isinya tetapi karena faktor di luarnya. Ada beberapa faktor yang bisa dilihat,

1) Faktor oknumnya atau من قال siapa yang berbicara, orangnya atau organisasinya. Mereka menolak Islam Nusantara karena ada oknum di Internal NU yang dianggap tidak tsiqoh (terpercaya) bahkan dibenci sehingga apapun yang diucapkan oleh oknum ini tidak diolah. Semua hal yang ada kaitannya dengan oknum ini langsung ditolak mentah-mentah bahkan dicaci. Nah, kondisi ini sebenarnya tergantung pada emosional penerima informasi, kalau dia membenci maka sebagus apapun pernyataannya nalarnyapun mati. Lebih parahnya faktor emosional ini terkadang dijadikan senjata untuk mengeneralisir seola-olah oknum itu mewakili NU.

 

2) Faktor politik, dalam beberapa diskusi di media sosial saya melihat ketidak setujuan ini adalah karena sekarang sudah masuk tahun politik 2019. Saya mengalami langsung bagaimana berdiskusi dengan beberapa pegiat media sosial, setelah diberi penjelasan ternyata dia menjawab yang penting 2019 ganti presiden. Menjelang Pilpres 2019, mereka yang kontra Jokowi sudah memprediksi bahwa Jokowi bisa dikalahkan asal orang-orang NU tidak terlibat, selama NU masih solid maka kemungkinannya kecil penantang Incumbent tersebut menuju RI 1.

 

3) Faktor Ideologi, mereka yang tidak setuju dengan Islam Nusantara karena perbedaan Ideologi. Selama ini NU cukup akomodatif dengan budaya lokal  مالا يخالف الشرع selama budaya tersebut tidak bertentangan dengan syariat. NU juga memegang erat Prinsip NKRI harga mati. Dua hal ini menjadi problem bagi oknum atau kelompok yang berideologi radikal, gampang membid'ahkan bahkan mengkafirkan.

 

Salah satu contoh komentar yang saya baca tentang Islam Nusantara adalah barang siapa yang mengakui Islam Nusantara maka batal syahadatnya. Mereka terus melakukan pembusukan terhadap NU, karena mereka tidak akan mudah menguasai Negara ini sebelum menghancurkan NU. Apapun bisa mereka halalkan demi kehancuran NU.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

M. Khalil Abd. Jalil (Dosen Ma'had Aly Salafiyah Syafi'iyah & Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo)