Hoax adalah Kebenaran yang Tertunda?

Ahad, 5 Agustus 2018 18:16 WIB
886x ditampilkan Berita Utama Berita Dosen Mahad Aly Pesantren Umum

Hari ini hoax mungkin datang terlambat. Saya menyatakan demikian, Karena biasanya hoax datang pagi-pagi namun sampai saat ini saya belum menjumpainya. Pagi ini saya hanya mendapatkan kiriman pertanyaan dari sahabat Medsos, “saya sekarang bingung mau percaya yang mana, yang satu ngaku benar, satunya lagi juga ngaku benar? kayaknya sama-sama benar, bahkan kadang tampak sama-sama salah, alias hoax”

Kalau ditelisik, Hoax sebagaimana yang tertulis dalam Oxford English Dictionary adalah malicious deception atau kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat. Hoax biasanya bukan hanya melemparkan kritik, lebih tepatnya menjatuhkan martabat orang lain. Kritik mengandung makna memperbaiki tetapi hoax menghancurkan.

Bagi sebagian orang, menyebarkan hoax sudah menjadi kebiasan. Untungnya, Kebiasaan menyebarkan hoax, dalam pendekatan fikih tidak tercakup dalam kaidah العادة محكمة adat/kebiasaan dijadikan sebagai panduan hukum, karena kebiasaan menyebarkan hoax masuk kategori مايخالف الشرع bertentangan dengan ajaran syariat. Pasalnya menyebarkan hoax sama dengan menyebarkan fitnah.

Dalam realita, saya rutin menerima hoax, padahal saya tidak berlangganan. Andaikan harus membayar SPP agar tidak disuguhi hoax, saya rela mengeluarkan biaya untuk tidak menerima berita sampah. Kalau diamati, konten hoax yang beredar cukup variatif, mulai dari agama, politik, sosial, ekonomi, dll. Tetapi, hoax yang beredar didominasi oleh isu-isu politik dan disusul isu-isu Agam. Patut disayangkan, hoax yang bertebaran bertendensi destruktif, memainkan emosi dan mematikan daya nalar.

Hoax sudah merusak setidaknya tiga persendian individu dan sosial:

Pertama, hilangnya sikap kerendahan hati, beredarnya hoax tidak semata-mata ketidak tahuan, karena saat seseorang merasa tidak tahu maka dia tidak akan menyebarkan berita itu, tetapi karena sudah merasa tahu akhirnya dia menyebarkan hoax. Di sini, kerendahan hati untuk mengakui ketidaktahuan sudah hilang. Mungkin saja dia benar-benar tidak tahu tetapi harusnya sadar diri bahwa ada pertanggung jawaban atas dampak dari isi berita. Baik itu pertanggung jawaban kepada dirinya sendiri, orang lain, dan Tuhan yang diimaninya.

Pada saat dibuktikan kabar yang disebar palsu, penyebar hoax itu  tidak peduli dengan kepalsuannya. Ada memang yang yang berbesar hati meminta maaf atas kesalahannya tetapi yang demikian itu tidak banyak. Jawaban paling aman saat dibuktikan salah adalah, "wahh saya hanya copy paste".

Kedua, hilangnya kejujuran. Kejujuran merupakan sikap yang seyogyanya sejak usia dini ditanamkan. Dalam Kurikulum 2013, kejujuran adalah salah satu karakter yang  wajib diajarkan di sekolah-madrasah. Dalam literatur klasik, berkat kejujuran, penjahat yang akan merampok kafilah Syaikh Abdul Qodir al-Jailani bertaubat. Itulah hikmah kejujuran.

Di era gelombang hoax, kejujuran mulai tergerus. Gelombang ini mengindikasikan bahwa nilai kejujuran mengalami degradasi. Mungkin awalnya benar-benar tidak tahu, tetapi kemudian mencari Informasi-informasi lain untuk membuktikan ketidak hoax-an beritanya. Dia tidak mau jujur bahwa berita itu memang tidak diketahuinya. Lebih menyedihkan lagi adalah mereka yang sebenarnya tahu tetapi pura-pura tidak tahu, itulah makelar hoax.

Ketiga Runtuhnya kepercayaan. Serangan hoax yang bertubi-tubi tidak memberikan ruang untuk memfilter mana yang benar dan mana yang salah, mana yang sesuai fakta mana yang propaganda, lebih-lebih mereka yang memiliki kelemahan literasi. Belum mengetahui kebenaran satu berita datang lagi berita lain, belum memverifikasi satu informasi datang informasi lain. Akhirnya, Berita-berita itu mengendap di alam bawah sadarnya, sehingga hoaxlah yang menjadi kesadarannya.

Entah harus berapa kali peringatan tentang bahaya hoax harus disampaikan.  Banyak aktivis anti hoax berjuang melawan hoax walaupun tidak sebanyak arus hoax itu sendiri. Bisa disimpulkan daya cegah anti hoax tidak seampuh kekuatan hoax itu sendiri, atau jangan-jangan masyarakat menilai gerakan anti hoax adalah hoax itu sendiri.

Badai hoax diprediksi tidak akan reda menjelang Pilpres 2019. Badai ini berpotensi besar membentuk gelombang Tsunami yang menghancurkan benteng-benteng rasionalitas. Setinggi apapun Pendidikannya, kalau tidak memiliki pertahanan logika yang kuat akan hanyut diombang-ambingkan gelombang. Bisa saja karena besarnya arus hoax menyebabkan semua kabar dianggap hoax. Tidak ada kabar yang tidak hoax. Atau sebaliknya, mengutip dari Paul Joseph Goebels, Kebohongan sekali tetap kebohongan, tetapi kebohongan yang disampaikan ribuan kali menjadi kebenaran.

Lampiran