Renungan: Paradoksal Fokus Keilmuan Pesantren

Sabtu, 8 September 2018 18:17 WIB
197x ditampilkan Berita Utama Artikel Keilmuan Pesantren Alquran Kitab Kuning

Pesantren-pesantren dewasa ini terkesan mengalami pengotakan. Karena itu, dapat dengan mudah dibeda-bedakan. Satu misal; beda antara pesantren tradisional (salafiyyah) dan pesantren modern (khalafiyyah).

Jika pesantren tradisional yang tetap eksis melestarikan tradisi serta kultur awal pesantren, maka pesantren modern adalah yang sebaliknya.

Kultur pesantren yang dimaksud adalah realitas keseharian santri di pesantren tradisional. Mereka tidak hanya belajar (ngaji), tetapi juga berkhidmah (ngabdi). Dengan belajar mereka memperoleh ilmu. Sedangkan melalui khidmah mereka meraih berkah.

Sayangnya, hal demikian sudah jarang dijumpai di pesantren modern, –apalagi di lembaga pendidikan umum yang nonpesantren.

Misal lainnya; klasifikasi pesantren dari segi keunggulan dan fokus keilmuannya. Ada pesantren berfokus hanya pada ilmu Alquran dan taḥfīẓ (hafalan)-nya. Akibatnya, kemampuan membaca kitabnya menjadi kurang mumpuni.

Ada pula pesantren yang mengambil spesialisasi pendalaman kitab kuning saja. Efeknya memiliki kelemahan dalam membaca (juga menghafal) Alquran.

Seyogianya perhatian berimbang pesantren terhadap ilmu Alquran dan kitab kuning merupakan sebuah keniscayaan. Mengingat Alquran tidak semata untuk dibaca dan dihafalkan. Tahapan terpentingnya dipahami untuk kemudian diamalkan dalam keseharian.

Adalah fakta bahwa memahami Alquran bukanlah perkara mudah dan sederhana. Alquran yang notabene berbahasa Arab itu tidak cukup dimengerti hanya dengan mengandalkan terjemahannya. Namun, pemahaman tamam akan kandungan Alquran dapat diperoleh berkat penguasaan seperangkat ilmu tata bahasa Arab (ilmu alat). Berikut kaidah-kaidah ilmu tafsir. Nyatanya, itu semua berkaitan dengan kemahiran dalam membaca kitab kuning.

Sebab itu, sangat disayangkan bilamana seorang Qori’ atau penghafal Alquran kurang memahami makna kandungan Alquran. Lantaran tidak cukup mampu membaca kitab kuning. Bukankah Alquran itu pedoman hidup (way of life)? Lalu, bagaimana mungkin mereka dapat memahami hukum juga menangkap hikmah di dalamnya?

Pun juga santri yang sekadar pandai membaca kitab kuning. Tapi kurang menguasai ilmu Alquran. Bukankah Alquran itu sumber utama syariat Islam? Lantas bagaimana bisa mereka leluasa berdalil tanpa modal kemapanan membaca dan menghafal ayat-ayat Alquran?

Lantas, bagaimana semestinya? Nah, itulah kiranya ihwal yang perlu kita renungkan bersama.

Wallahu a‘lam bi aṣ-ṣawāb.

 

 

*) Oleh: Ahmad Rijalul Fikri. Tulisan lengkapnya dimuat di GEOTIMES dengan judul “Alquran, Kitab Kuning, dan Pesantren”.