Penjarahan di Tengah Bencana, Silahkan!!!

Jumat, 5 Oktober 2018 20:51 WIB
1045x ditampilkan Berita Utama Penjarahan Mahad Aly Gempa Manado Sigi Dan Donggala

Indonesia kembali diselimuti awan duka. Belum kering air mata akibat gempa di Lombok. Palu, Sigi dan Donggala kembali meneteskan air mata.  Bahkan korban dan kerugian akibat gempa dan tsunami di Sulawesi jauh lebih parah daripada di Lombok. Derita pun semakin menjadi-jadi karena bantuan yang  diharapkan tidak kunjung datang dan tidak memadai.  Di tengah suasana mencekam dan menakutkan, harapan hidup masih tetap terhembus dari para korban. Untuk sekedar menyambung hidup akhirnya mereka melakukan penjarahan di beberapa toko terdekat, bahkan bantuan-bantuan untuk korban yang lain pun tidak luput untuk dijarah.

Banyak orang mengecam tindakan ini, namun apa boleh buat mungkin ini adalah satu-satunya solusi untuk menyambung nyawa. Terlepas dari pro-kontra motif penjarahan ini, namun yang pasti jika hal ini adalah satu-satunya solusi untuk menyambung hidup, maka secara fikih penjarahan semacam ini sah-sah saja. Dalam sebuah kaidah fikih disebutkan,

أَنَّ الضَّرُورَاتِ تُبِيحُ الْمَحْظُورَاتِ

Kondisi Emergency dapat menjadi alasan untuk melakukan perbuatan yang dilarang.

Dalam kondisi normal, mengambil hak orang lain semisal mencuri dan merampok sangat dilarang. Teks-teks syar’ie secara jelas melarang perbuatan semacam ini. Kaidah fikih pun menjelaskan:

لا يجوز لأحد أن يأخذ مال أحد إلا بسبب شرعي

Seseorang dilarang mengambil hak orang lain kecuali dengan sebab syar’ie

Mencuri, merampok dan penjarahan salah satu bentuk perbuatan yang merugikan orang lain. Setiap perbuatan yang merugikan dilarang dalam Islam. Tabiat dari hukum Islam adalah melarang hal-hal yang mendatangkan kemudharatan. Dalam sebuah kaidah dijelaskan:

الأصل في المضار التحريم

Ketentuan terhadap persoalan yang memudharattakan adalah dilarang

Oleh karena sudah dihadapkan pada kondisi yang sangat terjepit yaitu memilih melakukan perbuatan haram namun untuk menyambung hidup atau tidak melakukan perbuatan haram tetapi mati, maka dalam kondisi ini manusia diperkenankan untuk memilih alternatif pertama.  Pilihan pertama sangat legal secara fikih. Demikian ini sebagai wujud dari kelenturan hukum Islam yang diturunkan untuk menjaga kemaslahatan manusia. Dalam kaidah yang lain disebutkan:

إذا ضاق الأمر اتسع وإذا اتسع ضاق

Jika kondisinya sulit, (hukum) menjadi lentur. Jika kondisi normal, (hukum) menjadi ketat.

Bagaimana kalau barang atau makanan yang dirampas adalah bantuan untuk korban lain yang juga butuh untuk menyambung hidup? Jawabannya tidak boleh. Menyambung hidup dengan cara mengorbankan hidup orang lain dilarang dalam Islam. Walaupun seseorang diwajibkan untuk menghilangkan kemudharatan  yang dideritanya, namun tidak boleh perbuatan tersebut menimbulkan kemudharatn yang sama untuk orang lain. Dalam kaidah yang lain disebutkan:

الضرر لا يزال بمثله

Menghilangkan kemudharatan jangan sampai mendatangkan kemudharatan yang serupa.

Perlu  diperhatikan juga bahwa orang tidak bisa mengambil hak milik orang lain sak kareppe dhewe (semaunya sendiri) tapi harus disesuaikan dengan kondisi emergency yang dideritanya. Jika keperluannya hanya untuk sekedar menyambung nyawa, maka kadar makanan yang diperkenankan untuk diambil hanyalah sekedar untuk menyambung nyawa saja. Jika melebihi dari itu maka selebihnya haram. Dalam sebuah kaidah dijelaskan:

الضرورة تقدر بقدرها

Keadaan darurat harus disesuaikan dengan kadarnya

Selanjutnya, pelaku penjarahan tidak boleh menutup mata terhadap penjarahan yang telah dilakukannya. Ketika kondisi sudah normal sebagaimana biasa maka syariat mengharuskan kepadanya untuk mengganti segala bentuk kerugian material ataupun fisik yang telah terjadi akibat penjarahan yang dilakukannya. Ganti rugi bisa dibayar oleh yang bersangkutan dari hartanya sendiri atau bisa juga pemerintah yang mengganti sebagai bentuk tanggung jawab  atas derita yang ditimpa rakyat. Dalam sebuah kaidah dijelaskan:

الِاضْطِرَار لَا يبطل حق الْغَيْر

Kondisi bahaya tidak dapat membatalkan hak orang lain

Dari kaidah ini nampak sekali keadilan Islam yang mampu mengakomodir hak dua orang yang memiliki kepentingan berbeda. Melanjutkan hak hidup dengan cara mengambil hak orang lain dan hak untuk mempertahankan hak milik disisi yang lain. Wal hasil! tentu kita semua tetap berdoa agar masyarakat Palu, Sigi, dan Donggala segera diberikan jalan keluar atas segala penderitaan yang dialaminya saat ini. Aminnn!!

Tabik; donysaputra