Tips Anti Hoax

Jumat, 5 Oktober 2018 21:51 WIB
426x ditampilkan Berita Utama Hoax Ratna Sarumpet

Gempa politik baru selesai. Ratna Sarumpaet, salah satu pimpinan badan pemenangan nasional Pabowo Subianto-Sandiaga S. Uno, mengakui kebohongannya kepada Publik. Ratna meminta maaf karena telah menyampaikan berita palsu yang menyebabkan kegaduhan dalam skala nasioanal, lebih memalukan lagi, Tokoh-tokoh Elit Capres-Cawapres Prabowo-Sandi sangat reaktif menuntut diungkapnya kasus tersebut.

Ada yang beranggapan bahwa kebohongan ini adalah hoax terbesar dan terbaik minggu ini yang gagal dimainkan oleh Ratna Sarumpaet setelah kepolisian membuktikan kejanggalan-kejanggalannya. Artinya, pernyataan-pernyataan tentang Ratna Sarumpaet sebagai korban penganiyaan tersebut tidak korespond dengan temuan-temuan kepolisian.

Hoax semacam ini bisa menimpa siapa saja tanpa mempertimbangkan status, pekerjaan, gelar sarjana. Hoax bisa mengelabui penulis, pengguna medsos, bahkan Mantan Danjen Kopassus. Di sini, penulis mencoba berbagi salah satu teknik agar terhindar dari Hoax.

1.  Fokus pada Fakta

Saat menemukan pemberitaan yang berupa Video atau foto-foto di Media sosial, fokuskan pada gambar saja. Tahan diri dari berkomentar apalagi share. Hati-hati terjebak dalam asumsi bawaan anda atau framing penulis/media. Foto-foto yang bertebaran, misalnya foto Ratna Sarumapet lebam. Lepas asumsi bahwa itu dianiyaya, ingat itu hanyalah gambar wajah yang lebam. Berhenti di situ!

2.   Analisis konteks

Langkah berikutnya, identifikasi konteks pemilik pernyataan/gambar, tulisan, sumber tulisan dan sebab akibatnya. Pastikan apakah dia tim pemenangan, rekam jejaknya selalu mendukung atau menyudutkan paslon tertentu. Kemudian identifikasi pula sebab-akibat,  karena setiap akibat pasti ada sebab. Lebam itu fakta, tetapi belum menjelaskan sebabnya, sebab dipukul, dianiyaya, terjatuh, ditabrak atau lainnya, semua alternatif jawaban itu mungkin. Jangan menyimpulkan Sebelum menemukan kepastian akan kebenaran informasi.

3.  Simpulkan

Setelah chek and recheck, cari sumber pembanding baru kemudian simpulkan. Ingat, simpulkan, bukan menghakimi. Misalnya, "Oooo, ternyata lebam akibat operasi plastik". Titik, Jangan ditambah-tambahi!

Teknik anti Hoax tersebut berlaku bagi orang-orang yang betul-betul beritikad baik mendapatkan pengetahuan, bukan bagi orang yang emosional baik dari pendukung atau lawannya. Berikut prilaku pendukung dan lawan dalam bersikap.

1) Pendukung-Apologi

Bagi pendukung emosional, apapun yang dilakukan oleh junjungan pasti dianggap benar. Mereka tidak akan melihat kelemahan-kelemahan, bahkan kelemahanpun akan dianggap sebagai kelebihan. Semua yang dilihat diasumsikan baik semua, tidak ada salahnya. Dan yang terpenting, ini berlaku bagia semua pendukung Capres-Cawapres di dua kubu.

Dalam kasus Ratna Sarumpaet, apabila elit-elit koalisi Prabowo-Sandi tersebut tidak terlibat dalam pembohongan publik, berarti kita menyaksikan bahwa para fans/kelompoknya langsung mengafirmasi tanpa klarifikasi. Membenarkan tanpa meneliti kebenarannya. Mereka melihat bahwa Ratna seakan malaikat yang selalu benar bukan manusia yang mungkin salah, parahnya lagi apabila kealpaan verifikasi fakta tersebut dilakukan secara berjamaah.

Bagaimana saat dibuktikan salah? Di sini saya melihat perilaku netizen yang diduga kuat pendukung Prabowo-Sandi, saat terbukti salah, yang mereka lakukan adalah apologi. Bisa dibuktikan di media sosial betapa banyak yang mengucapkan apologinya, misal;  ”Pak Prabowo  minta maaf pada semua kalangan kalau memang salah, tidak bersembunyi dengan kebohongan yang ada”, “Pak Prabowo, lebih baik dibohongi daripada membohongi”.

2) Lawan-Curiga

Bagi mereka pendukung emosional Incumbent tidak akan melihat kebaikannya dalam kasus hoax Ratna Sarumpaet, Kalaupun ada kebaikan, maka kemungkinan akan diacuhkan, bahkan cenderung tidak ada benarnya.

Lawan bersikap dengan sudut pandang kecurigaan kepada pihak yang tidak disukainya. Tidak peduli apakah koalisi incumbent atau oposisi. Pada kasus Ratna Sarumpaet bisa dilihat di Media sosial, kita temukan ungkapan-ungkapan berikut, “wahhh jangan-jangan permintaan maafnya juga hoax”,  “Seorang mantan Danjen Kopassus yang sekaligus Capres koq bisa ditipu, segitukah kelasnya".

Penulis Moh. Holil

Dosen  Filsafat Ma’had Aly Situbondo