GEMPA LAGI, AZAB ATAUKAH BALA’?

Sabtu, 6 Oktober 2018 19:18 WIB
13014x ditampilkan Berita Utama Gempa Azab Tsunami Musibah

Indonesia kembali diselimuti awan duka. Belum kering air mata akibat gempa di Lombok. Palu, Sigi dan Donggala kembali meneteskan air mata.  Bahkan korban dan kerugian akibat gempa dan tsunami di Sulawesi jauh lebih parah daripada di Lombok. Kiranya perlu kita renungi lebih lanjut apa dan bagaimana sih musibah itu? Lalu kenapa musibah ini terjadi? Terus, bagaimanakah status musibah yang melanda negeri kita saat ini? Setelah itu, bagaimana cara kita mencegah datangnya musibah tersebut?  

Musibah adalah suatu kejadian yang menimpa manusia baik berupa kebaikan ataupun kejelekan. Dengan kata lain, musibah adalah suratan takdir yang telah digariskan oleh Allah kepada manusia sejak zaman azali. Definisi ini dilandaskan pada firman Allah pada surat an-Nisa‘ ayat 79:

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja musibah yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” 

Sedangkan kalau kita tilik dari perspektif terminologi, maka “musibah‟ dapat diungkapkan dengan berbagai ragam definisi. Semisal apa yang diungkapkan oleh aj-Jurjany, bahwa musibah adalah segala sesuatu yang tidak disukai hati. Al-Qurthuby menambahkan, musibah ialah apa saja yang menyakiti dan menimpa diri orang mukmin, atau sesuatu yang berbahaya dan menyusahkan manusia sekalipun kecil. [alTa‘rīfāt, 215, al-Mausū‘ah al-Qur`aniyyah, 283]

Definisi yang dikemukakan al-Qurthubiy tersebut sejalan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ikrimah.  Pada suatu malam, lampu Rasulullah sempat padam. Lalu beliau ber-istirja‟, yaitu membaca: Innalillah wainna ilaihi raji'un. Para sahabat bertanya: Apakah ini termasuk musibah ya Rasulallah? Nabi menjawab: Ya, segala sesuatu yang menyakiti orang mukmin disebut musibah. [al-Durru al-Mantsūr fi at-Tafsīr al-Ma‘tsūr,  288:I, al-Mausū‘ah al-Qur`aniyyah, 283] Dalam al-Quran, kata musibah disebut sebanyak 10 kali dengan makna yang berbeda-beda. Dari kesepuluh kata tersebut, terjadinya musibah sedikitnya mengusung tiga misi yang berbeda.

Pertama, sebagai teguran (tadzkirah). Suatu musibah dikatakan sebagai teguran apabila menimpa seorang mukmin yang sedang melanggar ajaran Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali -Imran ayat 165:

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata:  Dari mana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Ayat tersebut diturunkan Allah dalam rangka menyikapi pelanggaran sebagian sahabat Rasulullah yang tidak patuh pada perintah beliau. Tepatnya, di saat perang Uhud. Ketika itu beliau memerintahkan agar sebagian sahabatnya tetap bertahan di atas bukit. Namun karena mereka tergiur dengan harta benda yang ditinggalkan musuh, akhirnya mereka turun. Nah, karena pembangkangan itulah Allah menegur mereka dengan perihnya kekalahan, agar mereka selalu patuh kepada Rasulullah dalam kondisi bagaimanapun. [Shafwah atTafāsir, 241:I]

Kedua, sebagai cobaan (bala’). Musibah yang berupa cobaan (bala’) ini berdasarkan ayat al-Quran surat al-Baqarah ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

 “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.

Ayat ini menurut riwayat al-Thabariy dari sahabat Atha`  terkait dengan para sahabat Rasulullah. Lanjut beliau, Allah menurunkan musibah yang berupa cobaan (bala’) ini dalam rangka ingin mengetahui siapa di antara kaum muslimin yang sabar dengan yang tidak, yang benar-benar kokoh beriman kepada Allah dan yang tidak, yang terbuka mata hatinya dan yang munafik, dan sebagainya. [Jami‘ al- Bayān, 57:II]

Musibah yang berupa ujian (bala’) ini hanya turun kepada orang mukmin untuk menguji sejauh mana kualitas keimanannya. Dan sekaligus untuk mengangkat derajatnya ke posisi yang lebih tinggi manakala mereka mampu bertahan dengan bekal kesabaran dan ketabahan. [Tafsir al-Fakhru al-Rāzy, 170:IV]

Ketiga, sebagai kutukan (adzab). Musibah dapat pula berstatus sebagai siksaan (‘adzab). Musibah semacam ini hanya tertentu pada orang-orang kafir. Mereka diberi adzab di muka bumi karena mereka tidak beriman kepada Allah dan selalu berbuat munkar. Hal ini terlukiskan dalam al-Quran surat al-Qashas ayat 47:

وَلَوْلَا أَنْ تُصِيبَهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَيَقُولُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

”Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mukmin”. [Jami‘ al-Bayān, 102:XX]

Kalau kita lihat dari beragam musibah di atas, secara umum datangnya musibah disebabkan oleh dua hal. Sebagaimana di sampaikan oleh Fakhrur ar-Razy. Pertama, karena memang kehendak Allah Swt. tanpa didahului pelanggaran dari manusia. Musibah ini di sebut dengan cobaan untuk menguji sejauh mana tingkat kesabaran manusia dalam menghadapinya.  Kedua, akibat perbuatan manusia. Berupa perbuatan maksiat, perusakan alam, dan perbuatan mungkar lainnya.  Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat al-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagai dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. [Tafsir al-Fakhru ar-Razy, II, Juz IV, 170]

Secara terperinci, Dzunnun al-Mishry menjelaskan bahwa, perbuatan manusia yang bisa menyebabkan terjadinya musibah antara lain (1) lemahnya komitmen untuk melakukan amal kebajikan (2) perbuatan manusia selalu diperbudak oleh hawa nafsunya (3) suka berangan-angan dan lupa kepada akhirat padahal ajalnya sudah hampir tiba (4) mendahulukan kepentingan dan kehendak sendiri ketimbang mendapatkan ridha Allah (5) Meninggalkan ajaran-ajaran Rasulullah dengan menuruti bisikan nafsunya (6) manusia banyak mengikuti pola pikir (hujjah) syaithani yang sesat, sementara kebenaran ditinggalkan bahkan ditutup-tutupi. [al-Risālah al-Qusyairiyyah, 101]

Apa yang harus kita lakukan? Ada beberapa tips untuk menolak bencana. Pertama, tinggalkan maksiat, laksanakan perintah Allah dan rasul-Nya, jauhi kemungkaran serta bertobatlah. Kedua, tinggalkan perusakan dan eksploitasi lingkungan yang tidak seimbang. Karena hal tersebut hanya akan mendatangkan musibah. 

Bagi kaum Muslimin yang taat kepada Allah tetapi tetap ditimpa musibah, jangan terburu-buru mengklaim Allah itu jahat. Ada beberapa langkah yang harus dijalani. Pertama, bersabar. Sebab musibah tersebut bagi mereka merupakan sebuah ujian yang harus dihadapi dengan jiwa yang besar. Mereka tidak salah, mereka hanya menjadi imbas kemarahan Allah atas kaum yang durhaka. Karena ketika Allah sudah berkehendak menurunkan bala` semuanya pasti terkena. Kedua, husnu az-dzan. Berprasangka baik kepada Allah dan meyakini bahwa, di balik musibah itu akan ada hikmah agung yang dapat dipetik di kemudian hari. Baik di dunia maupun di akhirat. Amin...[Siroju at-Thālibīn, 156:II, Qul Hadzihi Sabīli, 111-112]

Dukutip dari Buletin Tanwirul Afkar edisi 330; 29 Desember 2006

atau Fikih Progresif Hal. 2053

Tabik: donyekasaputra