IMUNISASI JANGAN DISALAH PAHAMI; Menelaah kembali fatwa MUI tentang Vaksin MR

Selasa, 16 Oktober 2018 17:30 WIB
536x ditampilkan Berita Utama Tanwirul Afkar VaksinMR Mui Lirboyo

Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhirnya mengeluarkan fatwa soal hukum penggunaan vaksin measles rubella (MR). Penggunaan vaksin MR untuk saat ini diperbolehkan, meski dinyatakan positif mengandung unsur babi. Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni'am Sholeh mengatakan, lembaganya telah memutuskan bahwa penggunaan vaksin yang memanfaatkan unsur babi dan turunannya hukumnya haram. Vaksin MR buatan Serum Institute of India (SII) juga hukumnya haram karena menggunakan bahan yang berasal dari babi. Namun penggunaan vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII) pada saat ini, dibolehkan (mubah), ujar Ni'am melalui keterangan tertulis. Setidaknya, ada tiga hal alasan yang membuat penggunaan vaksin MR dibolehkan, yakni karena kondisi keterpaksaan (darurat syar'iyyah), belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci, serta ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi. [Liputan 6.com]

Sedangkan dalam kesempatan yang berbeda, ada segelintir kaum muslimin yang mencoba menemukan hukum tentang imunisasi menggunakan vaksin MR. Semisal keputusan bahtsul masa’il LBM-P2L –Lajanah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo, yang memutuskan untuk tetap mengharamkan imunisasi menggunakan vaksin MR. Menurutnya penggunaan vaksin MR untuk imunisasi masih belum bisa dikatakan darurat syar'iyah, hal ini dapat dilihat dari tiga putusan yang ditetapkan yakni; Pertama, pada vaksin MR terdapat bahan dari zat babi atau pernah bersinggungan dengan babi dan belum melewati proses penyucian yang mu’tabar. Kedua, tidak ada darurat maupun hajat. Dalam imunisasi penyakit belum ada pada anak yang diimunisasi, maka tidak ada unsur darurat maupun hajat yang memperbolehkan berobat dengan benda najis dan Ketiga, tidak ada saksi dari ahli medis yang bisa dibuat acuan hukum. Pembuat dan penemu vaksin MR dari kalangan non-Islam, sehingga keterangannya tidak bisa dipercaya untuk dijadikan pijakan hukum. Adapun keterangan dari ahli medis muslim semuanya mengacu pada penelitian ahli medis non-Islam bukan dari penelitiannya sendiri. [Lirboyo.net]

Dari paparan data di atas tampak bahwa masih terjadi tarik-ulur di kalangan umat muslimin – khususnya  di Indonesia, mengenai hukum penggunaan vaksin MR produk Institute of India. Lantas bagaimana pandangan TA mengenai penggunaan vaksin MR? simak ulasan singkat di bawah ini!

Larangan mengkonsumsi segala sesuatu yang bersangkut-paut dengan babi di dalam Islam, diperoleh dari dalil Alquran secara iqtidha'i, setidaknya keharaman mengkonsumsi sesuatu yang terkait dengan babi di dalam Alquran ada pada tiga surat;

Pertama, pada surat al Baqarah ayat 173

???????? ??????? ?????????? ??????????? ????????? ???????? ???????????? ????? ??????? ???? ???????? ??????? ?????? ???????? ?????? ????? ????? ????? ????? ?????? ???????? ????? ??????? ??????? ???????

Artinya: “Sesungguhnya Allah mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembalih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak mengiginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” [QS. Al Baqoroh:173]

Kedua, pada surat al Maidah ayat 3

????????? ?????????? ??????????? ????????? ???????? ???????????? ????? ??????? ???????? ??????? ???? ?....?????

Artinya: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah.” [QS. Al Ma`idah: 3]

Dan terakhir pada surat an Nahl ayat 115

???????? ??????? ?????????? ??????????? ????????? ???????? ???????????? ????? ??????? ???????? ??????? ???? ?????? ???????? ?????? ????? ????? ????? ??????? ??????? ??????? ???????

Artinya: “Sesungguhnya Allah mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembalih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak mengiginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” [QS. An Nahl: 115]

Tiga ayat di atas seluruhnya masih menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda, karena kata  ???? melahirkan hukum berupa keharaman. Sedangkan sebuah hukum tidak bisa berkaitan dengan suatu benda melainkan pada suatu pekerjaan. Maka maknanya bisa saja haram menyimpan, haram menyentuh dan sebagainya. Namun dalam tiga ayat di atas ulama' memberikan penafsiran yang sama yakni sisi keharamannya adalah "Mengkonsumsi". Semisal penafsiran yang dilakukan oleh Abu Mansur al Mathuridzi dalam karyanya Takwilatu Ahlis Sunnah, dikatakan yang haram adalah mengkonsumsinya bukan lainnya sehingga boleh kemudian menyimpan dan semacamnya. Begitu pula menurut Imam Ahmad al Marwazyi as Sam'ani –ulama' bermazhab Hanafi lalu bermazhab Syafi'i, makna dari kata ???? adalah mengkonsumsinya tidak lainnya. Bahkan lebih lanjut menurut as Sam'ani larangan untuk mengkonsumsi hal-hal yang ada dalam tiga ayat di atas merupakan syariat para nabi sebelum nabi Muhammad Saw (Syar'u man qablana). Namun, berbeda dengan penafsiran yang dilakukan oleh Nashiruddin Muhammad as Syairazi al Baidhawi dalam kitabnya Anwarut Tanzil wa Asraru at Takwil bahwa, yang haram selain mengkonsumsi adalah mengambil manfaat dari benda-benda tersebut. Sehingga bukan hanya mengkonsumsinya yang haram namun memanfaatkannya juga diharamkan, semisal menjual, menjadikan selimut dan sebagainya. Menurut al Baidawi ketika ada sebuah hukum yang disandarkan langsung pada suatu benda, menunjukkan bahwa yang dihukumi adalah segala bentuk penggunaan pada benda tersebut sampai ada dalil yang mengkhususkannya. Ketika kata ???? disandarkan pada benda-benda di atas, maka seluruh penggunaan baik mengkonsumsi, menyimpan dan lainnya diharamkan sampai ada dalil yang mengkhususkannya. [Takwilatu Ahlis Sunnah VI/586, Tafsirul Qur'an lis Sam'ani I/169, Anwarut Tanzil wa Asraru at Takwil I/119]

Lalu pada tiga ayat di atas yang diharamkan hanyalah daging babi saja tidak tulang, kulit ataupun lainnya. Menurut al Baidawi dan Fakhruddin ar Razi dalam kitabnya Tafsirul Karim (Mafatihul Ghaib) penyebutan kata ??? pada tiga ayat di atas hanya kebiasaan saja (lit taghlib), karena pada biasanya orang hanya memanfaatkan dagingnya saja. Oleh karena itu, yang diharamkan bukan hanya daging babi saja, namun segala sesuatu yang berada pada babi tersebut termasuk air liur babi itu.  [Anwarut Tanzil wa Asraru at Takwil I/120, Mafatihul Ghaib III/33]

Penjelasan serupa juga dapat diperoleh dari hadis Nabi Saw yang menerangkan bahwa Allah mengharamkan mengkonsumsi daging babi maka Allah juga mengharamkan transksi yang terkait dengan babi. Rosulullah Saw bersabda;

????? ??????? ????? ??????? ??????? ????????? ??????????? ????????? ???????????? ??????????? ????????? ??????????? ???????????

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamr dan hasil penjualannya, bangkai dan hasil penjualannya, serta babi dan hasil penjualannya.” [HR. Abu Daud, al Baihaqi, at Thabrani]

Dari hadis tersebut jelas kemudian bahwa yang diharamkan bukan hanya mengkonsumsi babi tapi mentransaksikannya pun tidak dibolehkan. Menurut al Imam al Mahasin Hamdul Ibad al Badri dalam kitabnya Syarh Abi Daud, tidak hanya haram mengkonsumsi dan mentransaksikannya bahkan alat-alat untuk memanfaatkan sesuatu dari babi itupun juga diharamkan. Menurut al Khatthabi ada perbedaan pendapat ulama' mengenai memanfaatkan kulit babi; ada sebagian yang memakruhkan dan lainnya membolehkan dengan catatan sebagai rukhsah. [Musnad Syamiyyin III/ 198, as Sunanul Kubra VI/21, Sunan Abi Daud III/279, Syarah Abi Daud XXXIX/396, 'Aunil Ma'bud Syarh Sunan Abi Daud IX/273]

Selanjutnya, bagaimana hukum berobat dengan benda yang haram untuk dikonsumsi? Dalam sebuah hadis Rosulullah Saw bersabda;

????? ????? ????? ??????? ???????? ???????? ????????????? ???????? ??????? ????? ??????? ????????????? ????? ?????????? ?????????

Artinya: "Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya, dan memberikan obat untuk tiap-tiap penyakit. Oleh karena itu berobatlah kamu, tetapi jangan berobat dengan yang haram" [HR. al Baihaqi]

Secara lahiriah hadis ini menjelaskan bahwa, pada setiap penyakit yang diturunkan oleh Allah Swt pasti bersamaan dengan penawarnya yang halal. Namun, pada realitanya masih banyak penyakit yang belum ditemukan obatnya kecuali obat dari sesuatu yang haram untuk dikonsumsi. Mayoritas ulama' membolehkan berobat dengan sesuatu yang najis, jika memang tidak ada lagi. Imam Muhyiddin bin Syaraf an Nawawi dalam kitabnya al Majmu' Syarh al Muhaddzab tampaknya memberikan syarat-syarat yang ketat, menurut beliau syarat kebolehan berobat dengan benda najis adalah; Pertama, tidak dijumpainya obat yang suci. Kedua, mengetahui tentang pengobatan (Farmakolog) dan Terakhir tidak adanya obat berdasarkan dokter muslim. [as Sunanul Qubra lil Baihaqi X/9, al Majmu' Syarh al Muhaddzab IX/50]

Mengenai imunisasi menggunakan vaksin MR yang positif diklaim mengandung unsur babi dan semacamnya, Komisi Fatwa MUI sebagai lembaga resmi pemerintah mengeluarkan fatwa haram namun dibolehkan karena ada darurat-darurat syar'iyah dan hajat. Fatwa tersebut kemudian dibantah oleh LBM Pondok Pesantren Lirboyo yang memandang bahwa penggunaan vaksin MR tersebut tetap haram mengingat tidak ada darurat-darurat syar'iyah ataupun hajat, seperti yang dikemukakan oleh Komisi Fatwa MUI. Mengenai hajat ataupun darurat-darurat syar'iyah sebenarnya ulama' telah menyebut penyebab sebuah perkara atau kasus bisa dikategorikan hajat. Sebagaimana pendapat as Syatibi dalam kitab al Muwafaqatnya bahwa, manusia sangat butuh sekali untuk merealisasikan kemaslahatan dunia dan akhiratnya tanpa harus menemui kesulitan dan keruwetan, maka segala sesuatu yang menuntun manusia menuju kesulitan dan keruwetan merupakan salah satu penyebab adanya hajat.[al Muwafaqat II/10]

Memang pendapat LBM Pondok Pesantren Lirboyo –yang mengatakan pada saat imunisasi menggunakan Vaksin Mr belum dijumpai darurat-darurat syariyah ataupun hajat, dapat dibenarkan. Namun mengharamkan imunisasi secara mutlak dengan alasan tersebut, tidak bisa dibenarkan. Mengingat dalam memahami hajat, ulama' membaginya menjadi dua; Pertama, hajat yang besifat universal dengan tujuan memudahkan dan melancarkan urusan-urusan manusia, semisal dibolehkannya akad salam (pesanan) dan sebagainya. Hajat semisal ini berlangsung terus tanpa menunggu adanya kebutuhan, sehingga baik orang yang butuh atau tidak tetap dibolehkan melakukan hal-hal tersebut. Kedua, hajat yang bertujuan untuk meringankan beban manusia, hajat semisal ini bersifat sewaktu-waktu saja. Maka boleh saja imunisasi menggunakan vaksin MR adalah hajat universal dengan tujuan melancarkan urusan-urusan manusia supaya tidak timbul mafsadah di kemudian hari. [Jam'ul Jawami' II/281, Qawaidul Ahkam II/200]

Kalau pun, imunisasi vaksin MR tidak bisa dikategorikan sebagai hajat universal. Maka penggunaannya masih tetap dibolehkan, menimbang bahwa imunisasi merupakan tindakan pencegahan. Dalam menggali sebuah hukum, banyak sekali sumber yang bisa dijadikan rujukan semisal konsep sadd dari'ah. Konsep sadd dari'ah merupakan metode istinbatul ahkam yang diperdebadkan oleh para ulama',  namun mazhab Maliki dan Hambali menerima secara mutlak metode istinbad ini. Begitu konsep tandingannya yakni fath dari'ah, yang kemudian dibentuk dalam sebuah kaedah fikih

??? ??? ??????? ?????????? ?????? ???? ?????? ???????

Artinya: sesuatu yang menjadi penyempurna hal yang wajib maka juga wajib.

Dalam hal ini, imunisasi Vaksin MR merupakan tindakan pencegahan agar tidak terjadi penyakit yang diduga akan terjadi jika tidak menggunakan vaksin. Oleh karenanya dengan metode ini penggunaan vaksin MR bisa saja wajib, melihat bahwa menjaga diri dari penyakit merupakan hal wajib. Tindakan pencegahan ini berdasar pada pelbagai peristiwa yang terjadi di belahan dunia ketika tidak melakukan imunisasi. [I'lamul Muwaqqiin II/103, Irsyadul Fuhul fi Tahqiqil Haq min 'Ilmil Ushul 295]

Kalau pun, tetap ingin menyatakan bahwa metode sadd dari'ah merupakan metode yang tidak valid untuk menggali hukum Islam. Maka di awal pembukaan kitab al Ahkam as Sulthaniyah karya Imam al Mawaardi dikatakan bahwa,

????????????? ???????????? ??????????? ???????????? ???? ????????? ????????? ??????????? ??????????

Artinya: kepemimpinan dibuat untuk mengganti kenabian dalam mengurus agama dan perkara dunia

Begitu pula kaedah fikih yang mengatakan,

?????? ?????????? ??? ???????????? ????????????? ?????? ???????? ??????????

Artinya: keputusan seorang hakim dalam permasalahan khilafiyah dapat menyelesaikan perbedaan

Dengan demikian, karena MUI telah memutuskan bahwa imunisasi menggunakan Vaksin MR dibolehkan. Maka tidak ada ruang untuk menimbulkan perbedaan pendapat di dalam tubuh umat Islam. Tawakkalualallah

Sumber