Dualisme Santri Mahad Aly

Rabu, 17 Oktober 2018 20:29 WIB
645x ditampilkan Berita Utama Artikel

Awalan. Perlu klarifikasi terlebih dahulu. Menyangkut judul tulisan ini. Tentang yang dimaksudkan “dualisme” di sini. Bukan terkait preferensi politik. Di Pilpres tahun 2019 nanti. Antara memilih capres-cawapres nomor urut satu atau nomor urut dua. Sekali lagi, bukan itu yang dimaksud.

Namun, “dualisme” di sini. Tertuju kepada bagaimana gaya hidup santri-santri MA. Di malam hari. Antara yang maniak belajar sampai larut malam. Kontras dengan yang menekuni ibadah malam. Alias qiamulail.

Terangnya begini. Manakala santri model yang kedua bangun tidur. Tipikal santri yang pertama justru hendak tidur. Jika yang satunya bersikeras tidur di awal malam. Supaya dapat terjaga untuk qiamulail. Maka, yang lainnya sebaliknya. Kemaruk belajar hingga mengakhirkan tidurnya di penghujung malam.

Sejatinya, masalah dilematik tersebut telah dibahas Buletin Tanwirul Afkar. Edisi 47 (23 Oktober 2011). Judulnya, Qiyamul Lail vs Begadang. Termasuk di dalamnya pertanyaan tentang lebih utama mana: Qiamulail ataukah begadang (untuk belajar)?

Kesimpulannya, belajar lebih utama daripada salat sunah di waktu malam. Akan tetapi, idealnya antara ilmu dan ibadah itu harus diintegrasikan. Sebab, keduanya memang satu kesatuan. Tidak boleh dipisahkan. Juga, tidak perlu untuk dipertentangkan. Di dalam kitab Minhajul ‘Abidin. Halaman 16. Imam Hasan Albasri berpesan. “Carilah ilmu tanpa melalaikan ibadah, dan beribadahlah tanpa lalai dalam mencari ilmu.”

Senapas dengan pesan moral di atas. Adalah dedikasi Ustadz Ahmadi Muhammadiyah selama ini. Atas amanat langsung dari mudir MA, KH Ach. Hariri Abdul Adhim. Beliau istikamah membangunkan seantero santri MA yang sedang terlelap. Baik santri M1 (marhalah ula) maupun santri M2 (marhalah tsaniah). Untuk bergegas qiamulail.

Itu beliau lakukan tanpa pandang bulu. Entah mereka itu santri tipikal yang pertama atau pun model yang kedua tadi. Pokoknya, segenap santri MA mesti bangun qiamulail.

Dan, sekarang. Beliau tak lagi sendirian menjalankan amanah itu. Sudah ada yang turut membantu beliau. Di antaranya, Ra Surur (musyrif sekaligus Kasubag Ubudiyah MA) dan Cak Waank (Kepala Daerah MA M2). Selain, bantuan dari segelintir santri lainnya. Yang rela mengabdikan diri sebagai volunteer ubudiah asrama MA.

 

Oleh: Ahmad Rijalul Fikri (Santri Ma’had Aly M2 asal Lombok)