Deklarasi Lembaga Pendidikan Keagamaan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu

Rabu, 24 Oktober 2018 15:00 WIB
299x ditampilkan Berita Utama Deklarasi Pendidikan Keagamaan Bandung

Bandung, bertepatan dengan Hari Santri, 22/10/2018, Menteri Agama Republik Indonesia membuka dan memberikan pengantar dalam acara Simposium Nasional Pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan dengan tajuk  “Memperkuat Lembaga Pendidikan Keagamaan Menuju Indonesia Emas 2045”.

Dalam sambutan pembukaan sekaligus sebagai keynote speech, beliau mengingatkan kembali pentingnya menyeimbangkan antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Bahkan seharusnya kesalehan sosial mendapatkan intensi yang lebih serius dalam pendidikan keagamaan. Hal ini, seperti beliau jelaskan, tidak berarti bahwa peribadatan ritual tidak penting, tetapi bahwa kesalehan di ruang privat seharusnya mewujud dan berlanjut ke arah kesalehan di ruang publik.

“Persoalannya ketika anak-anak kita telah dewasa, pendidikan yang pendekatannya ritualistik pada peribadatan semata, kurang memberikan penekanan pada esensi agama itu sendiri,” ujar beliau. Beliau menguraikan bahwa semua agama mengajarkan bahwa pribadi paling luhur adalah seseorang yang paling banyak bermanfaat untuk manusia lainnya, khairun al-n?s anfa’uhum li al-n?s. Ini berarti agama hadir untuk kemanusiaan itu sendiri.

Selanjutnya beliau berpesan kepada peserta untuk memberikan porsi yang tepat dalam melihat Tuhan, antara sifat jal?l/keperkasaan dan jam?l/keindahan. Ketidaksetimbangan cara pandang potensial melahirkan penafsiran yang parsial kalau bukan negatif.

Kegiatan yang sejatinya dimulai sejak hari sebelumnya, 21/10/2018, diikuti oleh 135 Pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Di hari terakhir sebelum penutupan, 23/10/2018, peserta kegiatan mengikrarkan deklarasi simposium yang diwakili oleh satu lembaga pendidikan dari masing-masing agama. Berikut deklarasi tersebut:

DEKLARASI

Pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu untuk Penyelamatan Moral Generasi Bangsa Menuju Indonesia Emas

Merespon Hasil Simposium Nasional Pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan tanggal 21 – 23 Oktober 2018 di Bandung, dengan ini kami mendeklarasikan:

  1. Mengarusutamakan Pendidikan Keagamaan sebagai rumah pendidikan karakter yang terintegrasi dengan pendidikan keluarga, tempat ibadah, sekolah, dan masyarakat, dengan mengembangkan potensi peserta didik secara optimal;
  2. Berkomitmen untuk membentengi peserta didik dari perilaku menyimpang yang diakibatkan oleh ekses negatif perkembangan teknologi informasi (media sosial);
  3. Meminta pemerintah dalam hal ini Kementrian Agama bersinergi dengan para penyelenggara lembaga pendidikan keagamaan untuk menguatkan model lembaga pendidikan keagamaan;
  4. Menganjurkan kepada pimpinan lembaga pendidikan keagamaan untuk saling mengunjungi, bertukar pendidikan, dan berbagi pengalaman dengan melibatkan para guru dan peserta didik;
  5. Mengajak lembaga pendidikan keagamaan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi.

Atas nama Pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan

  1. Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur
  2. Sekolah Menengah Teologi Kristen SMTK Intheos Surakarta
  3. Pasraman Gurukula Bangli Bali
  4. Nava Dhammasekha Metta School Surabaya Jawa Timur
  5. Seminari Menengah St. Vincentius Garum Blitar Jawa Timur
  6. Sekolah Minggu Mejelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Cibinong Jawa Barat.

(Wahid)