Pesan Alumnus Mahad Aly Terkait Pembakaran Bendera

Rijaluna Kamis, 25 Oktober 2018 18:12 WIB
885x ditampilkan Berita Utama Berita Mahadaly Sukorejo Kiaimuzammil Pembakaran Bendera

Akhir-akhir ini, Indonesia seakan-akan tak pernah selesai dengan berbagai macam konflik. Konflik itu utamanya berpusat di media sosial, saling lempar hujatan, cacian, bully bahkan saling lapor menjadi konsumsi yang biasa di linimasi media sosial kita, yang terbaru soal kasus pembakaran bendera milik ormas tertentu. Hal ini juga menjadi perhatian Kiai Ahmad Muzammil, Alumnus Ma’had Aly angkatan pertama yang juga pendiri dan pengasuh PP. Rohmatul Umam Bantul Jogjakarta.

“Saat ini kita butuh orang tua, sebagai tempat berteduh yang bisa menengah-nengahi”, ujarnya kepada beberapa santri Ma’had Aly Situbondo ketika bersilaturrahim ke tempat di mana ia dulu belajar. Lebih dari itu, Kiai Muzammil juga berharap semua pihak menahan diri, tidak ikut-ikutan saling cakar dan saling makan sesama saudara se bangsa dan setanah air.  Semua pihak harus intropeksi diri, persatuan tetap harus diutamakan.

Terkait dengan Pilpres 2019, Kiai yang juga sering bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng itu berpesan bahwa NU tetap harus mengacu kepada Khittah Nahdhiyah yang dirumuskan di PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. “Saya kemarin ikut pertemuan tertutup di Jombang bersama Kiai Salahuddin Wahid, dan dzurriyah pendiri NU yang lain. Dalam forum itu, ditegaskan bahwa NU secara kelembagaan harus tetap posisi politiknya, yaitu politik kebangsaan bukan politik partisan. Dan juga forum kemarin itu tidak ada kaitannya dengan Calon tertentu, kalau ada suara yang membawa forum mulia tersebut mengarah kepada paslon tertentu maka itu bukan suara forum tetapi suara pribadi”, pungkasnya panjang lebar di kantor Ma’had Aly Salafiyah-Syafi’iyah Situbondo hari Rabu 25 Oktober 2018.[]