Serbuk Kopi, Otoritas, dan Taklid

Safik Sabtu, 3 November 2018 08:35 WIB
424x ditampilkan Akademik Artikel Mahasantri Umum Otoritas Taklid Kopi Terbakar Bubuk Mesiu Filsafat

Kemarin, saya membaca sebuah berita di koran bahwa ada video tentang orang yang membakar serbuk kopi instan. Mereka mengira bahwa kopi instan itu mengandung zat yang mudah terbakar yang dapat membahayakan pada orang yang mengkonsumsinya, sehingga mereka menjadi penasaran sekaligus khawatir.

Berita itu tidak hanya saya temukan di koran saja, melainkan sudah menyebar di berbagai media. Dan juga banyak video dengan berbagai versi yang bisa ditemukan di chanel youtube. Salah satunya adalah video tentang pemilik warung yang melakukan experimen dari tiga jenis kopi. Alhasil semuanya sama, serbuk kopi tersebut mudah terbakar, seakan-akan kopi tersebut mengandung bahan kimia.

Pada saat itulah, golongan orang awam mulai takut untuk mengkonsumsi kopi instan tersebut. Mereka menganggap bahwa kopi instan itu berbahaya untuk dikonsumsi. Padahal kopi tersebut telah melalui evaluasi kemanan dan mutu dari pihak BPOM RI, yang barang tentu sudah pasti aman dan sudah mendapatkan nomor izin edar.

Pemilik warung tak punya Otoritas untuk memutuskan bahwa kopi tersebut mengandung bahan kimia yang menyebabkan mudah terbakar. Pemilik ototiras dalam hal ini adalah BPOM RI untuk memutuskan apakah makanan itu berbahaya atau tidak, karena kita tidak mempunyai cukup ilmu untuk memutuskan makanan itu berbahaya atau tidak untuk tubuh kita. Kita hanya ikut saja kepada pihak BPOM RI.

Jadi, jangan mudah dipengaruhi orang, kita lihat dulu sumber pengetahuannya. Sumber pengetahuan itu banyak diantaranya adalah Otoritas. Otoritas tak hanya terbatas pada orang, tapi juga bisa yang lain, intinya punya Otoritas. Dalam kasus tersebut yang mempunyai Otoritas adalah BPOM RI. Jadi dalam hal makanan, minuman dan obat-obatan kita ikuti aja apa yang dikatakan oleh BPOM RI. Tidak perlu repot-repot mencoba sendiri.

Manusia bukan Tuhan yang serba bisa dalam segala sesuatu. Manusia diciptakan dalam keadaan lemah, yang barang tentu tidak bisa melakukan sendiri segala hal. Manusia butuh kepada Otoritas dalam sebagian hal. Salah satunya kasus diatas. Namun, tak semua Otoritas bisa dijadikan pedoman, harus pandai memilah mana Otoritas yang benar dan mana Otoritas yang salah.

Dalam beragama juga diharuskan mengikuti Otoritas, kita tidak bisa membuat hukum sendiri karena ilmu untuk memproduksi hukum belum kita kuasai. Jadi ikuti aja Otoritas. Nanti, kalau sudah mempunyai ilmu baru bisa memproduksi hukum sendiri. Dalam agama mengikuti Otoritas dikenal dengan istilah bertaqlid.

Kesimpulannya, mengikuti Otoritas atau bertaklid itu wajib. Kalau bertanya masalah tumbuhan ya tanya aja ke petani, kalau masalah bangunan ya tanya ke arsitektur. Jadi tidak perlu susah-susah untuk belajar yang memakan waktu cukup lama. Semua sudah ada ahlinya.

By. Safik
Mahasantri Ma'had Aly Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Marhalah Ula Semester V